Senin, 21 Maret 2011

Menjemput Ajal Menebar Harapan

Bagaimana saat kita diberitahu bahwa kita akan meninggal dalam waktu dekat ini? Tepat minggu depan, tepat bulan depan atau tepat setahun dari sekarang. Berbagai reaksi yang muncul saat kita mengetahui kabar tersebut. Mungkin kita takut atau merasa kenapa kabar ini datang sangat mendadak, sementara masih banyak hal yang belum selesai dikerjakan. Atau ada juga yang tiba-tiba harus mengerjakan berbagai hal yang menurutnya berguna secepat mungkin karena berpacu dengan waktu. Ada juga orang yang bersungut-sungut bahkan marah menyalahi keadaan kenapa hal ini terjadi begitu cepat.

Yang jelas bahwa ada ruang diantara kini di saat kita hidup dan saat kita menemui ajal. Adalah lebih penting jika kita berdiskusi tentang apa yang sebaiknya kita perbuat selama waktu tersebut.

Omong-omong soal kematian, adalah seorang Morrie Schwartz professor sosiologi dari Brandeis University, Waltham, Massachusetts. Vonis hukuman mati telah diterima Morrie di musim panas, Agustus tahun 1994. Dokter yang menanganinya memvonis Morrie menderita penyakit ALS (amyotrophic lateral sclerosis) atau penyakit Lou Gehrig, sebuah penyakit ganas, tak kenal ampun yang menyerang sistem syaraf. Hingga kini belum ditemukan obat penyembuh penyakit tersebut.

”Bagaimana saya sampai terserang?” tanya Morrie
”Belum ada yang tahu” jawab si dokter
”Apakah ini mematikan?”
”Ya”
”Jadi tak lama lagi saya akan mati?”
”Ya” kata dokter, ”maaf”

Morrie tertegun dan saat tersadar ia mendapati bahwa dunia di sekelilingnya normal-normal saja. ”Mengapa dunia tidak ikut berhenti? Tahukah mereka guncangan yang baru saja kualami?”

Morrie menemui ajalnya pada 4 November1995

Kini sebuah buku ditulis tentang hari-hari terakhir orang tua itu oleh Mitch Albom, bekas mahasiswanya dengan judul Tuesdays With Morrie. Dalam catatan Mitch Albom yang tipis itu (tak sampai 200 halaman) kita dapat membaca, bagaimana di hari-hari terakhirnya Morrie Schwartz berbicara, dengan jasad yang semakin macet, tentang pelbagai hal yang menyangkut hidup dan mati. Dalam banyak ”kuliah” - demikian Morrie dan Mitch bersepakat menyebut pertemuan-pertemuan mereka tiap hari Selasa - diskusi yang mendalam tentang harapan menjadi benang merahnya.

Profesor yang terbaring lemah itu pun tahu tak ada yang bisa ia bantah. Ia memutuskan: ia akan membuat kematiannya sebagai proyek penghabisannya.
”Belajarlah bersama aku, dalam perjalanan sakit menuju Maut yang pasti dan pelan ini” Maka ia pun membentuk kelompok diskusi tentang kematian, ia menerima wawancara _ dan ia menjadi terkenal ketika di bulan Maret 1995, ia muncul dalam wawancara dengan Ted Koppel dalam wawancara "Nightline" dalam televisi ABC. Ia juga membuka semacam "kuliah mingguan".

Tiap hari Selasa, Morrie dengan sisa semangatnya berusaha untuk menyelesaikan proyeknya sampai kematian menjemputnya. Mitch Albom, bekas mahasiswanya yang sangat menyayangi guru yang baik itu, menyediakan diri untuk jadi satu-satunya murid. Mitch biasanya datang sehabis sarapan, kadang Mitch memijat tangan Morrie dengan minyak, membantunya melakukan sesuatu yang bagi kita tampak sepele tapi bagi pesakitan seperti Morrie hal tersebut adalah kerja sangat keras. Di sisi ranjang tempat sang profesor terbaring dan menatap kembang sepatu yang tampak di jendela ruang studi, Mitch akan merekam kuliah itu. Dr. Morrie Schwartz tak mengajarkan lagi sosiologi, tapi sesuatu yang lebih dalam dan lebih pendek, serangkaian kuliah tanpa buku, yang akan berakhir bukan dengan sebuah wisuda, tapi dengan pemakaman.

Tercatat ada 14 kuliah di hari Selasa dalam Tuesdays With Morrie. Ada sejumlah topik yang dibahas, di antaranya tentang kematian, tentang keluarga, tentang emosi, usia tua, cinta, maaf, emosi dan pelbagai hal lain. Dr. Morrie Schawrtz tidak lagi disebut sebagai mahaguru, melainkan sebagai seorang yang akrab: Mitch memanggilnya "coach" dan juga dengan nama depan, Morrie, sedang Morrie membalas sapaan Mitch dengan “player”. Kian hari apa yang diutarakan Morrie kian ringkas, tubuhnya kian lama kian lumpuh digerogoti ALS. Pengetahuan akhirnya menjadi redup berganti dengan kearifan yang makin bersinar. Pada Selasa ke-4 Morrie mengucap sebuah kalimat yang mungkin menjadi inti dari semua kuliah-kuliahnya: "Sekali kita belajar tentang kematian, kita akan belajar tentang kehidupan".

Mungkin tak ada yang baru dan aneh dalam kearifan yang diwartakan oleh Morrie. Semua bermuara pada kepasrahan. Ketika akhirnya Morrie tak bisa lagi mengelap kotorannya sehabis buang air besar, ia menyerahkan diri dan bergantung _ dengan tanpa rasa malu _ kepada orang lain.
"Aku mulai menikmati ketergantunganku", katanya.
"Seperti kembali menjadi anak-anak…Kita semua tahu bagaimana menjadi seorang anak. Ada dalam diri kita itu. Bagi saya, ini soal mengingat dan menikmatinya".

Bagi Morrie perlawanan terakhir bukanlah perlawanan terhadap sesuatu yang lebih kuat dan pasti menang _ yang akhirnya berwujud Maut. Perlawanan terakhir adalah terhadap kepedihan menghadapi dan meresapi kekalahan. Kita perlu menang atas godaan untuk menganggap kemenangan itu satu hal yang paling penting. Seringkali kita mengejar kemenangan sebagai suatu hal yang penting tapi kita sendiri tidak pernah memahami apa arti kemenangan sesungguhnya. ”Kenapa kita harus menang” sering kali menjadi kelekatan dalam diri kita dan seringkali pada akhirnya kita menyesali kemenangan kita karena banyak hal yang penting hilang berlalu begitu saja atau dikorbankan dalam hidup kita.

Mungkin ini hanya semacam excuse saja tapi tetap saja di dunia ini ada yang menang dan ada yang kalah.

Dalam sebuah kuliahnya Mitch bertanya kepada Morrie, apa pendapatnya tentang kisah Ayub dalam kitab suci
”Ayub seorang yang baik, tapi Allah membuatnya menderita, mengambil semua yang dimilikinya: rumah, ternak, harta dan keluarganya, membuatnya sakit”
”Untuk menguji imannya”
”Betul. Untuk menguji imannya. Sebab itu, aku ingin tahu...”
”Apa yang ingin kau ketahui?”
”Apa pendapatmu Morrie tentang kisah itu?”
Morrie batuk lagi, parah sekali hingga tangannya gemetar
”Menurutku,” jawabnya sambil tersenyum, ”Allah bertindak berlebihan”

Kita bisa saja berkata, "jangan-jangan hidup memang tak pernah adil", dan dengan itu kita bisa maklum bila kita kehilangan. Atau sebaliknya, kita bisa jadi brutal: karena hidup tak pernah adil, maka pengertian keadilan adalah satu hal yang omong kosong. Persoalannya sekarang mana yang kita pilih.

Terserang ALS menjadi nasib sial bagi Morrie, dan tidak ada alasan mengapa ia harus terserang ALS. Semua terjadi begitu saja, ia harus menjalani pelintiran nasib yang mungkin sebenarnya bukan ganjaran dari perbuatan-perbuatannya di masa lalu dan Morrie sadar betul tentang hal itu. Yang menarik ialah bahwa ia tak memilih untuk menjadi marah dan membuat orang lain jadi korban. Harapan, baginya, ialah ketika ia memberi. Mungkin dengan sedih dan getir dan rapuh. Tapi akhirnya ia memberitahu kita: tetap saja ada orang yang berbuat baik, juga dalam kekalahannya. Bukankah itu juga harapan?

Andrew Jansen

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar