Senin, 23 Februari 2009

Capek Jadi Pengurus Lingkungan

Capek Jadi Pengurus Lingkungan?

Semasa saya menjabat sebagai ketua lingkungan di salah satu wilayah di paroki ini, terus terang saya merasa ogah menerima jabatan ini. Klasiklah alasannya gak ada waktu untuk ngurusin hal-hal seperti: mengadakan doa rosario, mengadakan pembahasan kitab suci dalam rangka bulan kitab suci nasional, membantu warga yang sedang berduka cita, de el el, de el el. Apalagi di wilayah saya kebanyakan warganya adalah lansia, mudikanya sedikit.

Awal-awalnya saya jadi ketua lingkungan saya mengunjungi semua warga yang ada di lingkungan saya. Kunjungan ini hanya sekadar menyapa, mengakrabkan diri dengan warga dan memberitahukan bahwa saya adalah ketua lingkungan baru di lingkungan ini, silakan menghubungi saya kalo butuh pelayanan yang berhubungan dengan Gereja Katolik.

Pada tahap awal saya masih mengadakan kegiatan di lingkungan saya, namun lama kelamaan saya bosan juga karena hukum 4 L (Lu Lagi Lu Lagi) mulai berlaku. Orang-orang yang hadir dalam acara-acara lingkungan ya...yang itu-itu lagi. Kadang warga baru muncul tapi tak berapa lama tenggelam atau malah hanya ada yang hanya mendaftar tapi setelah itu tak tahu di mana rimbanya. Ada warga yang muncul hanya pada saat tahun ajaran sekolah untuk minta surat keringanan pembayaran sekolah setelah itu kembali ke keheningannya alias tidak muncul-muncul dalam kegiatan lingkungan. Ada juga warga yang menggebu-gebu ingin mengadakan acara rutin pembahasan kitab suci bahkan bersedia menjadi fasilitatornya tapi sayang acara ini berlangsung hanya 5 bulan setelah itu hilang tak berbekas karena umat yang hadir 4L.

Alasan demi alasan saya terima seputar tidak ada waktulah...repot kalo rumahnya ketempatan bla..bla. Sampai akhirnya saya kehilangan semangat mengadakan kegiatan-kegiatan di lingkungan, saya sempat ngambek dan bilang ke warga saya bahwa kegiatan-kegiatan ini atau itu tidak akan saya adakan kecuali ada warga yang meminta atau mengusulkan dan mau membantu saya melaksanakan kegiatan itu.

Cara ini cukup efektif untuk membuat umat kembali bergairah, tapi tetap hukum 4L kembali muncul walau kadarnya berkurang. Beberapa warga yang tadinya tidak pernah muncul sekarang mau ikut serta dan ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan lingkungan.

Suatu ketika di tahun 2003 hingga 2004 saya mendapat kesempatan berkantor di salah satu pencakar langit tertinggi di kota Jakarta ini. Yang membuat saya terkejut adalah banyak sekali karyawan-karyawati Katolik yang bekerja di gedung tersebut atau dari gedung sebelahnya yang menghadiri kegiatan-kegiatan setiap hari Jum’at pada jam makan siang yang diadakan pengurus komunitas Katolik di gedung itu entah Misa Jumper (Jum’at Pertama) atau Doa Rosario (kalau pas bulannya) atau Jalan Salib (saat prapaska) atau ibadat saat Adven. Pengurus-pengurusnya rela bekerja di sela-sela kesibukan mereka di kantor untuk mengurusi hal-hal seperti ini.

Memang tidaklah adil jika kita membandingkan kedua potret di atas, ini seperti membandingkan jeruk dengan apel ya... jauh kemana-mana lah bedanya. Namun poin yang ingin saya ambil dari dua cerita ini adalah saat kita berada dalam zona kenyamanan kita cenderung untuk malas melakukan apapun tapi saat kita berada dalam zona ketidaknyamanan karena ada tekanan-tekanan dalam hidup kita (terutama tekanan pekerjaan), kita berusaha mencari daerah-daerah atau saat-saat yang membuat kita nyaman, adem.

Setiap orang pasti mengalami tekanan dalam hidup yang berbeda hanya besarnya tekanan tersebut pada masing-masing orang. Menurut saya, setiap orang pasti butuh semacam oase atau mata air yang sejuk di tengah padang gurun kersang kehidupan. Sebagai seorang yang bergiat dalam organisasi spiritual saya termasuk yang gagal membangun semacam oase tersebut dalam lingkungan yang saya layani. Namun ijinkanlah saya membagikan beberapa hal berharga yang saya petik dari kegagalan-kegagalan saya dalam melayani lingkungan: pertama adalah saya tidak boleh jemu-jemunya mengadakan kegiatan-kegiatan walau hukum 4L hinggap karena mungkin saja orang tidak punya waktu untuk hadir sekarang karena kesibukan mereka, atau mereka mungkin saja sedang berada dalam zona kenyamanan karena hidup berjalan lancar-lancar saja. Tapi suatu saat mereka pasti membutuhkan kegiatan-kegiatan semacan itu, moment-moment seperti itu dimana secara spiritualitas orang mengalami peneguhan karenanya Untuk hal ini, dulu ketika masih jadi pengurus mudika kami pernah dimarahi Pastor Kurris karena kami tidak mengadakan acara malam tahun baru seperti yang sebelum-sebelumnya. Kedua saya belum mengenal dengan baik apa yang menjadi kebutuhan umat saat itu, potensi-potensi apa saja yang ada di lingkungan saya. Sehingga saya sering kehabisan ide atau inspirasi tentang kegiatan-kegiatan macam apa yang harus diadakan atau dikemas ulang dalam kemasan baru. Saya kurang dekat dengan mereka terutama secara pribadi. Ketiga saya tidak mampu untuk mengorganisir dan mengelola potensi-potensi tersebut menjadi kekuatan yang pada akhirnya menjadi tenaga untuk memberdayakan mereka kembali.

Selain itu saya merasa bahwa dukungan dari pihak paroki belum maksimal karena pembekalan-pembekalan untuk para pemuka lingkungan saat itu masih kurang, pedoman bagi pemuka lingkungan belum baku sehingga kesan yang timbul adalah trial and error dan semuanya harus dikonsultasikan dengan paroki, hal ini membuat pemuka lingkungan kadang-kadang kurang luwes dalam menjalankan fungsinya sebagai pelayan umat.

Tapi terlepas dari itu semua, bahwa menjadi seorang pemuka lingkungan walaupun banyak tantangan dan rintangan baik dari dalam maupun dari luar, walaupun sering frustasi, mangkel dan bahkan pake ngambek juga, hal itu membuat saya banyak belajar terutama belajar memahami dan mendengarkan orang lain.

(Andrew Jansen)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar