Senin, 21 Mei 2012

Nikmatilah Teh Manisnya, Bukan Gelasnya

Pada suatu pagi Pastor mengundang umat lingkungan dalam paroki tempat ia bertugas. Dalam suatu pertemuan di pastoran, beberapa rekan yang diundang adalah orang yang sudah mapan dan mempunyai karir yang cukup gemilang, dan setelah mengucap salam; pagi itu semua menumpahkan uneg-unegnya masing-masing atas kehidupan terutama seputar hebohnya harga BBM yang tidak jelas apakah akan naik harganya atau tidak, tentang susahnya hidup, dll.

Sudah menjadi kebiasaan sang Pastor untuk menyuguhkan teh panas dalam sebuah teko, tapi uniknya Pastor
menyediakan berbagai jenis gelas dari porselin, plastik, gelas kristal, gelas biasa; beberapa diantaranya gelas mahal dan beberapa lainnya yang sangat indah. Kemudiaan Pastor mengajak para tamu untuk menuang sendiri dan memilih sendiri gelas yang diinginkannya.

Setelah semua tamu memegang segelas teh di tangan, Pastor berkata:
"Jika kalian perhatikan, semua gelas yang indah dan mahal telah diambil dan yang tertinggal hanyalah gelas biasa yang murah saja. Memang wajar-wajar saja bagi kalian untuk menginginkan hanya yang terbaik bagi diri kalian, tapi sebenarnya itulah yang menjadi sumber masalah dan stress yang kalian alami."

"Pastikan bahwa gelas itu sendiri tidak mempengaruhi kualitas teh yang ada. Dalam banyak kasus, itu hanya lebih mahal; dan dalam beberapa kasus bahkan menyembunyikan apa yang kita minum.

"Apa yang kalian inginkan sebenarnya adalah teh manis tersebut bukan?, bukanlah gelasnya; namun kalian secara sadar mengambil gelas paling baik dan kemudian mulai memperhatikan gelas orang-orang lain.
"Sekarang perhatikanlah bahwa : kehidupan bagaikan teh manis, sedangkan pekerjaan, uang dan posisi dalam masyarakat adalah gelasnya. Gelas sebagai alat untuk memegang dan mengisi kehidupan. Jenis gelas yang kita miliki tidak mendefinisikan atau juga mengganti kualitas kehidupan yang kita hidupi. Sering kali, karena berkonsentrasi hanya pada gelas, kita gagal untuk menikmati teh manis hangat yang Tuhan sediakan bagi kita." Tuhan memasak dan membuat teh manis, bukan gelasnya.

Jadi nikmatilah teh manisnya, jangan gelasnya.

Jika kehidupan kita lebih penting dibanding pekerjaan kita.
Jika pekerjaan kita membatasi diri kita dan mengendalikan hidup kita, kita menjadi orang yang mudah diserang dan rapuh akibat perubahan keadaan. Pekerjaan akan datang dan pergi, namun itu seharusnya tidak merubah diri kita sebagai manusia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar