ADA dalam Keseharian Kita
Manusia dengan segenap akal budi yang dianugerahkan Tuhan telah menjadikannya sebagai makhluk yang cerdas dan yang lebih lagi bahwa manusia dapat menciptakan sesuatu dari apa yang tadinya hanya sebuah khayalan yang ada dalam benak manusia.
Kemampuan mencipta atau mewujudkan apa yang ada dalam benaknya menjadi sesuatu yang dapat diindera atau juga dikomunikasikan semakin berkembang hingga nantinya akan membentuk sebuah kebudayaan yang kemudian membentuk peradaban.
Bayangkan saja di masa sekarang, orang dengan mudah menemukan hal-hal yang mungkin dahulu hanya menjadi khayalannya sekarang sudah menjadi suatu yang nyata. Teknologi membuat kehidupan manusia menjadi mudah dan praktis, dunia semakin menciut dalam ruang privat. Apa yang terjadi di belahan dunia yang satu dapat dengan cepat dan mudah diketahui oleh orang lain di belahan dunia yang satunya lagi. Kita bisa terhubung secara real time dengan orang lain di belahan dunia lain berkat teknologi internet, transaksi jual beli tidak perlu menghadirkan pembeli, penjual dan barang dalam suatu tempat dan waktu.
Namun penemuan-penemuan dan pencapaian-pencapaian tersebut seringkali membuat hidup kita carut-marut, kita menjadi sibuk mengejar sesuatu yang tanpa disadari malah membuat kita sendiri terseret arus pusaran masalah yang sifatnya anonim. Hiruk pikuk kota menghanyutkan kita menjadi kembara yang memuja tubuh, petarung kapital atau penjilat kekuasaan. Kita menjadi lumpuh dalam mencandra yang rohaniah dan batiniah. Jati diri terabaikan dan hidup menjadi banal, dangkal dan tanpa makna. Hidup menjadi tanpa arti seperti robot yang terdiri dari mesin-mesin yang digerakkan secara mekanistis oleh program-program komputer. Kita seolah-olah sudah tahu semua atau dengan naif percaya bahwa semua itu ya memang sudah begitu (taken for granted). Sudah tidak ada lagi kekaguman akan ciptaan Tuhan yang indah dan agung. Penghayatan akan dunia yang semula baik adanya ciptaan Tuhan makin lama makin raib dalam timbunan-timbunan tafsir baik itu dari hasil pemikiran kita sendiri atau dari pemikiran orang lain. Manusia dengan segenap akal budi berusaha menafsir semua yang ada di hadapannya, memaksakan penafsirannya begitu saja terhadap semua yang terjadi di hadapannya, semua yang ada di hadapannya, tanpa pernah mau memahami dan mendalami makna dibalik itu semua. Bahkan untuk hal-hal yang remeh-temeh sekalipun.
Tapi pernahkah kita membuka diri terhadap yang ”ADA” di hadapan kita? Pernahkah kita membiarkan yang ”ADA” menampakkan diri pada dirinya sendiri? Bertanya mengapa saya ada kedengaran aneh. Pertanyaan ini mungkin tak terjawab. Kita bertanya seperti itu biasanya saat kita sedang dalam keadaan tenang dan hening, jika kita sedang tenggelam dalam kesibukan sehari-hari mempertanyakan hal itu mungkin hanya membuang-buang waktu saja. Namun pada saat tenang dan hening itulah hati kita terbuka terhadap Sang ADA.
Dalam penggalan waktu tertentu yang kita sebut zaman modern Sang ADA lebih ditangkap sebagai kesadaran atau subyektivitas. Masyarakat modern menekankan peranan kesadaran manusia. Mari kita lihat fenomen-fenomen sosial seperti seks bebas, aborsi, pemujaan tubuh, mengejar karier atau pengembangan pribadi, merger atau juga akuisisi perusahaan. Yang menjadi penting dalam semua ini adalah subyek atau ego. Emansipasi juga ide modern yang ada hubungannya dengan kesadaran ini. Yang diemansipasi adalah subyek. Maka dari itu, di mana-mana orang berbicara tentang pembebasan. Maksudnya, kesadaran hendaknya menjadi makin tajam dan makin besar, sehingga orang tidak ditipu oleh lingkungannya atau kekuasaan. Satu hal yang sering dilupakan orang dalam pencarian kesadaran atau subyektivitas ini bahwa jika ada subyek pasti mesti ada obyek, oleh karenanya hubungan subyek dan obyek lalu ditetapkan, dan sudah pasti subyek mendominasi (baca: menguasai) obyek. Di sinilah akar segala manipulasi dan eksploitasi, keterasingan, ketercerabutan dan represi yang juga merupakan gejala-gejala di zaman modern ini.
Oleh karenanya mari kita memahami Sang ADA sebagai sesuatu yang mewahyukan diri pada dirinya sendiri, hubungan subyek-obyek harus diatasi dengan pendekatan holistis-estetis terhadap realitas: membuka mata terutama mata hati selebar-lebarnya bagi Sang ADA yang menampakkan diri dalam peristiwa. Kesadaran jangan dilihat sebagai hubungan penguasaan (dominasi) obyek oleh subyek. Kesadaran adalah suatu peristiwa ADA atau salah satu cara ADA membuka diriNya bagi kita, maka kesadaran diraih lebih dengan membuka diri dan berkontak dengan ADA (dalam keheningan dan kebeningan hati) daripada dengan menguasai sesuatu yang lain sebagai obyek. Untuk mencapai kesadaran seperti disebutkan di atas ada baiknya kita membuka diri terhadap ADA dan mencandra apa yang kita alami dan kita hadapi dalam hidup kita sehari-hari bahkan dalam hal yang remeh-temeh sekalipun dengan sedalam-dalamnya sebagai suatu peristiwa pewahyuan diri Sang ADA. Bukan cuma ketajaman berpikir tapi lebih dari itu kebeningan dan keheningan hati yang kita butuhkan. Andrew Jansen
Minggu, 16 Januari 2011
ADA dalam Keseharian Kita
ADA dalam Keseharian Kita
Manusia dengan segenap akal budi yang dianugerahkan Tuhan telah menjadikannya sebagai makhluk yang cerdas dan yang lebih lagi bahwa manusia dapat menciptakan sesuatu dari apa yang tadinya hanya sebuah khayalan yang ada dalam benak manusia.
Kemampuan mencipta atau mewujudkan apa yang ada dalam benaknya menjadi sesuatu yang dapat diindera atau juga dikomunikasikan semakin berkembang hingga nantinya akan membentuk sebuah kebudayaan yang kemudian membentuk peradaban.
Bayangkan saja di masa sekarang, orang dengan mudah menemukan hal-hal yang mungkin dahulu hanya menjadi khayalannya sekarang sudah menjadi suatu yang nyata. Teknologi membuat kehidupan manusia menjadi mudah dan praktis, dunia semakin menciut dalam ruang privat. Apa yang terjadi di belahan dunia yang satu dapat dengan cepat dan mudah diketahui oleh orang lain di belahan dunia yang satunya lagi. Kita bisa terhubung secara real time dengan orang lain di belahan dunia lain berkat teknologi internet, transaksi jual beli tidak perlu menghadirkan pembeli, penjual dan barang dalam suatu tempat dan waktu.
Namun penemuan-penemuan dan pencapaian-pencapaian tersebut seringkali membuat hidup kita carut-marut, kita menjadi sibuk mengejar sesuatu yang tanpa disadari malah membuat kita sendiri terseret arus pusaran masalah yang sifatnya anonim. Hiruk pikuk kota menghanyutkan kita menjadi kembara yang memuja tubuh, petarung kapital atau penjilat kekuasaan. Kita menjadi lumpuh dalam mencandra yang rohaniah dan batiniah. Jati diri terabaikan dan hidup menjadi banal, dangkal dan tanpa makna. Hidup menjadi tanpa arti seperti robot yang terdiri dari mesin-mesin yang digerakkan secara mekanistis oleh program-program komputer. Kita seolah-olah sudah tahu semua atau dengan naif percaya bahwa semua itu ya memang sudah begitu (taken for granted). Sudah tidak ada lagi kekaguman akan ciptaan Tuhan yang indah dan agung. Penghayatan akan dunia yang semula baik adanya ciptaan Tuhan makin lama makin raib dalam timbunan-timbunan tafsir baik itu dari hasil pemikiran kita sendiri atau dari pemikiran orang lain. Manusia dengan segenap akal budi berusaha menafsir semua yang ada di hadapannya, memaksakan penafsirannya begitu saja terhadap semua yang terjadi di hadapannya, semua yang ada di hadapannya, tanpa pernah mau memahami dan mendalami makna dibalik itu semua. Bahkan untuk hal-hal yang remeh-temeh sekalipun.
Tapi pernahkah kita membuka diri terhadap yang ”ADA” di hadapan kita? Pernahkah kita membiarkan yang ”ADA” menampakkan diri pada dirinya sendiri? Bertanya mengapa saya ada kedengaran aneh. Pertanyaan ini mungkin tak terjawab. Kita bertanya seperti itu biasanya saat kita sedang dalam keadaan tenang dan hening, jika kita sedang tenggelam dalam kesibukan sehari-hari mempertanyakan hal itu mungkin hanya membuang-buang waktu saja. Namun pada saat tenang dan hening itulah hati kita terbuka terhadap Sang ADA.
Dalam penggalan waktu tertentu yang kita sebut zaman modern Sang ADA lebih ditangkap sebagai kesadaran atau subyektivitas. Masyarakat modern menekankan peranan kesadaran manusia. Mari kita lihat fenomen-fenomen sosial seperti seks bebas, aborsi, pemujaan tubuh, mengejar karier atau pengembangan pribadi, merger atau juga akuisisi perusahaan. Yang menjadi penting dalam semua ini adalah subyek atau ego. Emansipasi juga ide modern yang ada hubungannya dengan kesadaran ini. Yang diemansipasi adalah subyek. Maka dari itu, di mana-mana orang berbicara tentang pembebasan. Maksudnya, kesadaran hendaknya menjadi makin tajam dan makin besar, sehingga orang tidak ditipu oleh lingkungannya atau kekuasaan. Satu hal yang sering dilupakan orang dalam pencarian kesadaran atau subyektivitas ini bahwa jika ada subyek pasti mesti ada obyek, oleh karenanya hubungan subyek dan obyek lalu ditetapkan, dan sudah pasti subyek mendominasi (baca: menguasai) obyek. Di sinilah akar segala manipulasi dan eksploitasi, keterasingan, ketercerabutan dan represi yang juga merupakan gejala-gejala di zaman modern ini.
Oleh karenanya mari kita memahami Sang ADA sebagai sesuatu yang mewahyukan diri pada dirinya sendiri, hubungan subyek-obyek harus diatasi dengan pendekatan holistis-estetis terhadap realitas: membuka mata terutama mata hati selebar-lebarnya bagi Sang ADA yang menampakkan diri dalam peristiwa. Kesadaran jangan dilihat sebagai hubungan penguasaan (dominasi) obyek oleh subyek. Kesadaran adalah suatu peristiwa ADA atau salah satu cara ADA membuka diriNya bagi kita, maka kesadaran diraih lebih dengan membuka diri dan berkontak dengan ADA (dalam keheningan dan kebeningan hati) daripada dengan menguasai sesuatu yang lain sebagai obyek. Untuk mencapai kesadaran seperti disebutkan di atas ada baiknya kita membuka diri terhadap ADA dan mencandra apa yang kita alami dan kita hadapi dalam hidup kita sehari-hari bahkan dalam hal yang remeh-temeh sekalipun dengan sedalam-dalamnya sebagai suatu peristiwa pewahyuan diri Sang ADA. Bukan cuma ketajaman berpikir tapi lebih dari itu kebeningan dan keheningan hati yang kita butuhkan. Andrew Jansen
Manusia dengan segenap akal budi yang dianugerahkan Tuhan telah menjadikannya sebagai makhluk yang cerdas dan yang lebih lagi bahwa manusia dapat menciptakan sesuatu dari apa yang tadinya hanya sebuah khayalan yang ada dalam benak manusia.
Kemampuan mencipta atau mewujudkan apa yang ada dalam benaknya menjadi sesuatu yang dapat diindera atau juga dikomunikasikan semakin berkembang hingga nantinya akan membentuk sebuah kebudayaan yang kemudian membentuk peradaban.
Bayangkan saja di masa sekarang, orang dengan mudah menemukan hal-hal yang mungkin dahulu hanya menjadi khayalannya sekarang sudah menjadi suatu yang nyata. Teknologi membuat kehidupan manusia menjadi mudah dan praktis, dunia semakin menciut dalam ruang privat. Apa yang terjadi di belahan dunia yang satu dapat dengan cepat dan mudah diketahui oleh orang lain di belahan dunia yang satunya lagi. Kita bisa terhubung secara real time dengan orang lain di belahan dunia lain berkat teknologi internet, transaksi jual beli tidak perlu menghadirkan pembeli, penjual dan barang dalam suatu tempat dan waktu.
Namun penemuan-penemuan dan pencapaian-pencapaian tersebut seringkali membuat hidup kita carut-marut, kita menjadi sibuk mengejar sesuatu yang tanpa disadari malah membuat kita sendiri terseret arus pusaran masalah yang sifatnya anonim. Hiruk pikuk kota menghanyutkan kita menjadi kembara yang memuja tubuh, petarung kapital atau penjilat kekuasaan. Kita menjadi lumpuh dalam mencandra yang rohaniah dan batiniah. Jati diri terabaikan dan hidup menjadi banal, dangkal dan tanpa makna. Hidup menjadi tanpa arti seperti robot yang terdiri dari mesin-mesin yang digerakkan secara mekanistis oleh program-program komputer. Kita seolah-olah sudah tahu semua atau dengan naif percaya bahwa semua itu ya memang sudah begitu (taken for granted). Sudah tidak ada lagi kekaguman akan ciptaan Tuhan yang indah dan agung. Penghayatan akan dunia yang semula baik adanya ciptaan Tuhan makin lama makin raib dalam timbunan-timbunan tafsir baik itu dari hasil pemikiran kita sendiri atau dari pemikiran orang lain. Manusia dengan segenap akal budi berusaha menafsir semua yang ada di hadapannya, memaksakan penafsirannya begitu saja terhadap semua yang terjadi di hadapannya, semua yang ada di hadapannya, tanpa pernah mau memahami dan mendalami makna dibalik itu semua. Bahkan untuk hal-hal yang remeh-temeh sekalipun.
Tapi pernahkah kita membuka diri terhadap yang ”ADA” di hadapan kita? Pernahkah kita membiarkan yang ”ADA” menampakkan diri pada dirinya sendiri? Bertanya mengapa saya ada kedengaran aneh. Pertanyaan ini mungkin tak terjawab. Kita bertanya seperti itu biasanya saat kita sedang dalam keadaan tenang dan hening, jika kita sedang tenggelam dalam kesibukan sehari-hari mempertanyakan hal itu mungkin hanya membuang-buang waktu saja. Namun pada saat tenang dan hening itulah hati kita terbuka terhadap Sang ADA.
Dalam penggalan waktu tertentu yang kita sebut zaman modern Sang ADA lebih ditangkap sebagai kesadaran atau subyektivitas. Masyarakat modern menekankan peranan kesadaran manusia. Mari kita lihat fenomen-fenomen sosial seperti seks bebas, aborsi, pemujaan tubuh, mengejar karier atau pengembangan pribadi, merger atau juga akuisisi perusahaan. Yang menjadi penting dalam semua ini adalah subyek atau ego. Emansipasi juga ide modern yang ada hubungannya dengan kesadaran ini. Yang diemansipasi adalah subyek. Maka dari itu, di mana-mana orang berbicara tentang pembebasan. Maksudnya, kesadaran hendaknya menjadi makin tajam dan makin besar, sehingga orang tidak ditipu oleh lingkungannya atau kekuasaan. Satu hal yang sering dilupakan orang dalam pencarian kesadaran atau subyektivitas ini bahwa jika ada subyek pasti mesti ada obyek, oleh karenanya hubungan subyek dan obyek lalu ditetapkan, dan sudah pasti subyek mendominasi (baca: menguasai) obyek. Di sinilah akar segala manipulasi dan eksploitasi, keterasingan, ketercerabutan dan represi yang juga merupakan gejala-gejala di zaman modern ini.
Oleh karenanya mari kita memahami Sang ADA sebagai sesuatu yang mewahyukan diri pada dirinya sendiri, hubungan subyek-obyek harus diatasi dengan pendekatan holistis-estetis terhadap realitas: membuka mata terutama mata hati selebar-lebarnya bagi Sang ADA yang menampakkan diri dalam peristiwa. Kesadaran jangan dilihat sebagai hubungan penguasaan (dominasi) obyek oleh subyek. Kesadaran adalah suatu peristiwa ADA atau salah satu cara ADA membuka diriNya bagi kita, maka kesadaran diraih lebih dengan membuka diri dan berkontak dengan ADA (dalam keheningan dan kebeningan hati) daripada dengan menguasai sesuatu yang lain sebagai obyek. Untuk mencapai kesadaran seperti disebutkan di atas ada baiknya kita membuka diri terhadap ADA dan mencandra apa yang kita alami dan kita hadapi dalam hidup kita sehari-hari bahkan dalam hal yang remeh-temeh sekalipun dengan sedalam-dalamnya sebagai suatu peristiwa pewahyuan diri Sang ADA. Bukan cuma ketajaman berpikir tapi lebih dari itu kebeningan dan keheningan hati yang kita butuhkan. Andrew Jansen
Selasa, 27 Juli 2010
Teknologi Untuk Satu Manusia atau Umat Manusia?
Teknologi Untuk Satu Manusia atau Umat Manusia?
Tidak pernah terpikir oleh kita sebelumnya bahwa dunia yang sekarang kita hidupi telah menciut sedemikian rupa hingga menjadi seolah berada dalam genggaman kita. Betapa tidak sekarang ini kita dapat berhubungan dengan orang lain di belahan dunia lain juga dalam waktu yang bersamaan alias real time melalui internet.
Teknologi telah membuat segala hal yang tidak mungkin di masa lalu menjadi mungkin di masa sekarang. Cetak jarak jauh dalam bisnis surat kabar sudah dimulai sejak kira-kira dua puluh tahun lalu. Teknologi juga telah menyingkat proses dalam kehidupan manusia, dari yang tadinya panjang menjadi lebih singkat.
Sampai di sini semua terlihat baik. Teknologi sebagai buah pikir manusia telah menjadi kekuatan yang dapat merubah hidup manusia menjadi lebih baik, paling tidak begitu klaim kaum teknokrat sebagai kaum yang berinovasi dan juga berhitung untuk menemukan penemuan-penemuan terbaru demi kemajuan umat manusia. Teknologi juga telah mengubah peradaban manusia dari yang tadinya primitif menjadi tradisional hingga modern dan canggih.
Namun dibalik klaim-klaim kecanggihan dan kemudahan hidup bagi manusia, klaim-klaim tersebut tidak bebas dari kekurangan-kekurangan. Teknologi memang banyak membawa manfaat bagi umat manusia tapi mudaratnya ada juga. Perubahan perilaku pada manusia akhirnya juga bermuara pada perubahan budaya masyarakat. Pergerakan tubuh manusia semakin sedikit frekuensinya karena kerja fisik sudah banyak berkurang diganti dengan alat-alat bantu berteknologi, serba otomatis bahkan serba terprogram. Kita bergantung pada teknologi dan jika teknologi mengalami kegagalan, apa yang kita rencanakan juga buyar. Saat teknologi gagal melayani kebutuhan kita, kita menjadi lumpuh. Bisa dibayangkan saat pesawat yang kita tumpangi batal tinggal landas atau harus menunda mendarat karena gangguan entah cuaca buruk atau kerusakan mesin, atau saat kereta yang akan kita tumpangi tertunda keberangkatannya atau malah batal sama sekali. Sistem dalam teknologi informasi dalam dunia bisnis bila mengalami gangguan juga akan menyeret kita dalam pusaran masalah.
Proses yang harus dijalani untuk memperoleh sebuah hasil menjadi lebih singkat karena proses-proses tersebut ”tidak perlu diketahui” bagi para teknokrat proses-proses tersebut hanya akan memperpanjang jalan untuk mencapai solusi. Hal ini yang sekarang menjadi masalah besar dalam kehidupan manusia. Kita sangat bergantung pada alat-alat berteknologi canggih, sehingga kita menjadi lumpuh saat teknologi tersebut tidak berfungsi. Langkah-langkah sudah dipersingkat dalam sebuah proses pencaharian menuju solusi, masalahnya langkah-langkah tersebut pada jaman dahulu harus dikuasai hingga bila terjadi kemacetan, kita tahu bagaimana mengatasinya dengan cara menjalankan secara manual.
Teknologi menjadi alat untuk meramalkan masa depan manusia. Dengan segala kecanggihannya teknologi berusaha menjamin bahwa sesuatu hal di masa depan dapat diprediksi dan orang hanya perlu menunggu saja biar teknologi yang mengerjakan ramalannya.
Saat ini kita sudah masuk dalam suatu era yang kita sebut globalisasi. Dimana batas-batas negara semakin tidak jelas, utamanya dalam dunia perdagangan dan teknologi. Namun ironisnya dunia yang modern, yang global dengan segala kecanggihan teknologi juga tidak bisa melawan ketidakpastian, krisis ekonomi misalnya seringkali dipicu oleh hal-hal yang diluar dugaan. Anthony Giddens5 (2000) menyatakan bahwa krisis ekonomi yang menimpa Asia (termasuk Indonesia) pada tahun 1997 merupakan ontological security, konsekuensi dari kehidupan modern yang memuat kepastian-kepastian yang mengalami kehancuran akibat attack tiba-tiba oleh spekulan uang. Lebih lanjut, Giddens mengatakan: “The world we live in today is not one subject to tight human mastery.” Manusia dengan segala pengetahuan dan teknologi yang dihasilkannya tak mampu mengendalikan dunia, sejarah, dan terpuruk dalam ketidakpastian. Hal ini sebagai konsekuensi logis dari pengaruh globalisasi dan kapitalisme global.
Dilemma semacam ini sudah terjadi 2 milenium sebelumnya, saat kita membuka kembali Kitab Suci pada Kitab Kejadian. Diceritakan pada bab 11 manusia yang mengembara menemukan tanah yang datar di daerah Sinear mereka semua berbicara dalam bahasa yang sama kemudian mereka menetap di situ. Setelah itu mereka lalu berencana membangun sebuah kota dimana ada menara yang berdiri di situ untuk menyatukan mereka agar tidak tercerai berai. Namun Tuhan merusak rencana tersebut dan menceraiberaikan mereka dengan mengacaukan bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing.
Cerita ini berusaha mengingatkan bahwa manusia boleh berencana menyatukan seluruh umat manusia melalui usaha-usaha yang canggih-canggih, manusia boleh berusaha menciutkan dunia ini dalam genggaman, namun bukan itu maksud Tuhan menciptakan manusia. Manusia diciptakan unik satu dengan yang lain agar supaya manusia dapat menghargai dan bersyukur karena keunikannya dan juga keunikan orang lain. Butuh proses untuk memahami keunikan tiap-tiap orang dan segala upaya yang dilakukan untuk menyeragamkan pasti akan menemui jalan buntu.
Teknologi mengklaim bahwa ia membawa kemudahan dan nantinya diharapkan akan menghantarkan manusia pada kebahagiaan. Namun apakah klaim tersebut bisa menjadi klaim yang berlaku universal bagi seluruh umat manusia. Klaim bahwa teknologi menghantar pada kebahagiaan umat manusia bersifat personal atau terlalu pribadi, hanya orang-orang yang menguasai dan mampu membeli teknologi yang bisa bahagia, sedangkan mereka yang tidak menguasai dan mampu membelinya mungkin hanya akan menjadi sampah dalam era globalisasi ini. Untuk itu adalah baik bila teknologi dikuasai dan diupayakan oleh orang-orang yang bermoral dan bertujuan baik yang tidak menyalahgunakan kecanggihan teknologi, yang menggunakan kecanggihan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup orang-orang yang tidak mampu dan menderita, bahwa teknologi digunakan oleh orang-orang yang mampu menghargai keberagaman dan keunikan manusia, teknologi juga harus mengarahkan manusia terhadap penghargaan akan proses bahwa sesuatu tidak ada yang instan di muka bumi ini. Bahwa dengan segala kecanggihannya teknologi harusnya mampu mengungkapkan keindahan dan keunikan yang muncul dari setiap tahap-tahap dalam sebuah proses, teknologi harus dapat mendukung setiap proses-proses yang sifatnya alamiah dan kodrati yang menjadi ranah sang pencipta. Dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa teknologi menjadi alat yang mampu memanusiakan manusia, mengangkat harkat dan martabat manusia bukan malah merendahkan harkat dan martabat manusia sehingga manusia yang satu dapat tidak saling mengalahkan manusia lain hanya karena ia memiliki dan menguasai teknologi.
Dunia pendidikan juga harus mengajarkan bahwa penemuan suatu teknologi adalah sebuah proses yang sarat dengan disiplin dan kerja keras. Ia tidak dilahirkan secara instan tapi melalui proses yang panjang yang seringkali didahului dengan kegagalan namun kegagalan tersebut harus disikapi dengan semangat bahwa di ujung lain dari kegagalan ada ujung lain yang disebut keberhasilan dan itu dapat dicapai jika kita mau sungguh-sungguh bergerak menuju ke ujung yang lain yang disebut keberhasilan.
Andrew Jansen
Tidak pernah terpikir oleh kita sebelumnya bahwa dunia yang sekarang kita hidupi telah menciut sedemikian rupa hingga menjadi seolah berada dalam genggaman kita. Betapa tidak sekarang ini kita dapat berhubungan dengan orang lain di belahan dunia lain juga dalam waktu yang bersamaan alias real time melalui internet.
Teknologi telah membuat segala hal yang tidak mungkin di masa lalu menjadi mungkin di masa sekarang. Cetak jarak jauh dalam bisnis surat kabar sudah dimulai sejak kira-kira dua puluh tahun lalu. Teknologi juga telah menyingkat proses dalam kehidupan manusia, dari yang tadinya panjang menjadi lebih singkat.
Sampai di sini semua terlihat baik. Teknologi sebagai buah pikir manusia telah menjadi kekuatan yang dapat merubah hidup manusia menjadi lebih baik, paling tidak begitu klaim kaum teknokrat sebagai kaum yang berinovasi dan juga berhitung untuk menemukan penemuan-penemuan terbaru demi kemajuan umat manusia. Teknologi juga telah mengubah peradaban manusia dari yang tadinya primitif menjadi tradisional hingga modern dan canggih.
Namun dibalik klaim-klaim kecanggihan dan kemudahan hidup bagi manusia, klaim-klaim tersebut tidak bebas dari kekurangan-kekurangan. Teknologi memang banyak membawa manfaat bagi umat manusia tapi mudaratnya ada juga. Perubahan perilaku pada manusia akhirnya juga bermuara pada perubahan budaya masyarakat. Pergerakan tubuh manusia semakin sedikit frekuensinya karena kerja fisik sudah banyak berkurang diganti dengan alat-alat bantu berteknologi, serba otomatis bahkan serba terprogram. Kita bergantung pada teknologi dan jika teknologi mengalami kegagalan, apa yang kita rencanakan juga buyar. Saat teknologi gagal melayani kebutuhan kita, kita menjadi lumpuh. Bisa dibayangkan saat pesawat yang kita tumpangi batal tinggal landas atau harus menunda mendarat karena gangguan entah cuaca buruk atau kerusakan mesin, atau saat kereta yang akan kita tumpangi tertunda keberangkatannya atau malah batal sama sekali. Sistem dalam teknologi informasi dalam dunia bisnis bila mengalami gangguan juga akan menyeret kita dalam pusaran masalah.
Proses yang harus dijalani untuk memperoleh sebuah hasil menjadi lebih singkat karena proses-proses tersebut ”tidak perlu diketahui” bagi para teknokrat proses-proses tersebut hanya akan memperpanjang jalan untuk mencapai solusi. Hal ini yang sekarang menjadi masalah besar dalam kehidupan manusia. Kita sangat bergantung pada alat-alat berteknologi canggih, sehingga kita menjadi lumpuh saat teknologi tersebut tidak berfungsi. Langkah-langkah sudah dipersingkat dalam sebuah proses pencaharian menuju solusi, masalahnya langkah-langkah tersebut pada jaman dahulu harus dikuasai hingga bila terjadi kemacetan, kita tahu bagaimana mengatasinya dengan cara menjalankan secara manual.
Teknologi menjadi alat untuk meramalkan masa depan manusia. Dengan segala kecanggihannya teknologi berusaha menjamin bahwa sesuatu hal di masa depan dapat diprediksi dan orang hanya perlu menunggu saja biar teknologi yang mengerjakan ramalannya.
Saat ini kita sudah masuk dalam suatu era yang kita sebut globalisasi. Dimana batas-batas negara semakin tidak jelas, utamanya dalam dunia perdagangan dan teknologi. Namun ironisnya dunia yang modern, yang global dengan segala kecanggihan teknologi juga tidak bisa melawan ketidakpastian, krisis ekonomi misalnya seringkali dipicu oleh hal-hal yang diluar dugaan. Anthony Giddens5 (2000) menyatakan bahwa krisis ekonomi yang menimpa Asia (termasuk Indonesia) pada tahun 1997 merupakan ontological security, konsekuensi dari kehidupan modern yang memuat kepastian-kepastian yang mengalami kehancuran akibat attack tiba-tiba oleh spekulan uang. Lebih lanjut, Giddens mengatakan: “The world we live in today is not one subject to tight human mastery.” Manusia dengan segala pengetahuan dan teknologi yang dihasilkannya tak mampu mengendalikan dunia, sejarah, dan terpuruk dalam ketidakpastian. Hal ini sebagai konsekuensi logis dari pengaruh globalisasi dan kapitalisme global.
Dilemma semacam ini sudah terjadi 2 milenium sebelumnya, saat kita membuka kembali Kitab Suci pada Kitab Kejadian. Diceritakan pada bab 11 manusia yang mengembara menemukan tanah yang datar di daerah Sinear mereka semua berbicara dalam bahasa yang sama kemudian mereka menetap di situ. Setelah itu mereka lalu berencana membangun sebuah kota dimana ada menara yang berdiri di situ untuk menyatukan mereka agar tidak tercerai berai. Namun Tuhan merusak rencana tersebut dan menceraiberaikan mereka dengan mengacaukan bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing.
Cerita ini berusaha mengingatkan bahwa manusia boleh berencana menyatukan seluruh umat manusia melalui usaha-usaha yang canggih-canggih, manusia boleh berusaha menciutkan dunia ini dalam genggaman, namun bukan itu maksud Tuhan menciptakan manusia. Manusia diciptakan unik satu dengan yang lain agar supaya manusia dapat menghargai dan bersyukur karena keunikannya dan juga keunikan orang lain. Butuh proses untuk memahami keunikan tiap-tiap orang dan segala upaya yang dilakukan untuk menyeragamkan pasti akan menemui jalan buntu.
Teknologi mengklaim bahwa ia membawa kemudahan dan nantinya diharapkan akan menghantarkan manusia pada kebahagiaan. Namun apakah klaim tersebut bisa menjadi klaim yang berlaku universal bagi seluruh umat manusia. Klaim bahwa teknologi menghantar pada kebahagiaan umat manusia bersifat personal atau terlalu pribadi, hanya orang-orang yang menguasai dan mampu membeli teknologi yang bisa bahagia, sedangkan mereka yang tidak menguasai dan mampu membelinya mungkin hanya akan menjadi sampah dalam era globalisasi ini. Untuk itu adalah baik bila teknologi dikuasai dan diupayakan oleh orang-orang yang bermoral dan bertujuan baik yang tidak menyalahgunakan kecanggihan teknologi, yang menggunakan kecanggihan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup orang-orang yang tidak mampu dan menderita, bahwa teknologi digunakan oleh orang-orang yang mampu menghargai keberagaman dan keunikan manusia, teknologi juga harus mengarahkan manusia terhadap penghargaan akan proses bahwa sesuatu tidak ada yang instan di muka bumi ini. Bahwa dengan segala kecanggihannya teknologi harusnya mampu mengungkapkan keindahan dan keunikan yang muncul dari setiap tahap-tahap dalam sebuah proses, teknologi harus dapat mendukung setiap proses-proses yang sifatnya alamiah dan kodrati yang menjadi ranah sang pencipta. Dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa teknologi menjadi alat yang mampu memanusiakan manusia, mengangkat harkat dan martabat manusia bukan malah merendahkan harkat dan martabat manusia sehingga manusia yang satu dapat tidak saling mengalahkan manusia lain hanya karena ia memiliki dan menguasai teknologi.
Dunia pendidikan juga harus mengajarkan bahwa penemuan suatu teknologi adalah sebuah proses yang sarat dengan disiplin dan kerja keras. Ia tidak dilahirkan secara instan tapi melalui proses yang panjang yang seringkali didahului dengan kegagalan namun kegagalan tersebut harus disikapi dengan semangat bahwa di ujung lain dari kegagalan ada ujung lain yang disebut keberhasilan dan itu dapat dicapai jika kita mau sungguh-sungguh bergerak menuju ke ujung yang lain yang disebut keberhasilan.
Andrew Jansen
Teknologi Untuk Satu Manusia atau Umat Manusia?
Teknologi Untuk Satu Manusia atau Umat Manusia?
Tidak pernah terpikir oleh kita sebelumnya bahwa dunia yang sekarang kita hidupi telah menciut sedemikian rupa hingga menjadi seolah berada dalam genggaman kita. Betapa tidak sekarang ini kita dapat berhubungan dengan orang lain di belahan dunia lain juga dalam waktu yang bersamaan alias real time melalui internet.
Teknologi telah membuat segala hal yang tidak mungkin di masa lalu menjadi mungkin di masa sekarang. Cetak jarak jauh dalam bisnis surat kabar sudah dimulai sejak kira-kira dua puluh tahun lalu. Teknologi juga telah menyingkat proses dalam kehidupan manusia, dari yang tadinya panjang menjadi lebih singkat.
Sampai di sini semua terlihat baik. Teknologi sebagai buah pikir manusia telah menjadi kekuatan yang dapat merubah hidup manusia menjadi lebih baik, paling tidak begitu klaim kaum teknokrat sebagai kaum yang berinovasi dan juga berhitung untuk menemukan penemuan-penemuan terbaru demi kemajuan umat manusia. Teknologi juga telah mengubah peradaban manusia dari yang tadinya primitif menjadi tradisional hingga modern dan canggih.
Namun dibalik klaim-klaim kecanggihan dan kemudahan hidup bagi manusia, klaim-klaim tersebut tidak bebas dari kekurangan-kekurangan. Teknologi memang banyak membawa manfaat bagi umat manusia tapi mudaratnya ada juga. Perubahan perilaku pada manusia akhirnya juga bermuara pada perubahan budaya masyarakat. Pergerakan tubuh manusia semakin sedikit frekuensinya karena kerja fisik sudah banyak berkurang diganti dengan alat-alat bantu berteknologi, serba otomatis bahkan serba terprogram. Kita bergantung pada teknologi dan jika teknologi mengalami kegagalan, apa yang kita rencanakan juga buyar. Saat teknologi gagal melayani kebutuhan kita, kita menjadi lumpuh. Bisa dibayangkan saat pesawat yang kita tumpangi batal tinggal landas atau harus menunda mendarat karena gangguan entah cuaca buruk atau kerusakan mesin, atau saat kereta yang akan kita tumpangi tertunda keberangkatannya atau malah batal sama sekali. Sistem dalam teknologi informasi dalam dunia bisnis bila mengalami gangguan juga akan menyeret kita dalam pusaran masalah.
Proses yang harus dijalani untuk memperoleh sebuah hasil menjadi lebih singkat karena proses-proses tersebut ”tidak perlu diketahui” bagi para teknokrat proses-proses tersebut hanya akan memperpanjang jalan untuk mencapai solusi. Hal ini yang sekarang menjadi masalah besar dalam kehidupan manusia. Kita sangat bergantung pada alat-alat berteknologi canggih, sehingga kita menjadi lumpuh saat teknologi tersebut tidak berfungsi. Langkah-langkah sudah dipersingkat dalam sebuah proses pencaharian menuju solusi, masalahnya langkah-langkah tersebut pada jaman dahulu harus dikuasai hingga bila terjadi kemacetan, kita tahu bagaimana mengatasinya dengan cara menjalankan secara manual.
Teknologi menjadi alat untuk meramalkan masa depan manusia. Dengan segala kecanggihannya teknologi berusaha menjamin bahwa sesuatu hal di masa depan dapat diprediksi dan orang hanya perlu menunggu saja biar teknologi yang mengerjakan ramalannya.
Saat ini kita sudah masuk dalam suatu era yang kita sebut globalisasi. Dimana batas-batas negara semakin tidak jelas, utamanya dalam dunia perdagangan dan teknologi. Namun ironisnya dunia yang modern, yang global dengan segala kecanggihan teknologi juga tidak bisa melawan ketidakpastian, krisis ekonomi misalnya seringkali dipicu oleh hal-hal yang diluar dugaan. Anthony Giddens5 (2000) menyatakan bahwa krisis ekonomi yang menimpa Asia (termasuk Indonesia) pada tahun 1997 merupakan ontological security, konsekuensi dari kehidupan modern yang memuat kepastian-kepastian yang mengalami kehancuran akibat attack tiba-tiba oleh spekulan uang. Lebih lanjut, Giddens mengatakan: “The world we live in today is not one subject to tight human mastery.” Manusia dengan segala pengetahuan dan teknologi yang dihasilkannya tak mampu mengendalikan dunia, sejarah, dan terpuruk dalam ketidakpastian. Hal ini sebagai konsekuensi logis dari pengaruh globalisasi dan kapitalisme global.
Dilemma semacam ini sudah terjadi 2 milenium sebelumnya, saat kita membuka kembali Kitab Suci pada Kitab Kejadian. Diceritakan pada bab 11 manusia yang mengembara menemukan tanah yang datar di daerah Sinear mereka semua berbicara dalam bahasa yang sama kemudian mereka menetap di situ. Setelah itu mereka lalu berencana membangun sebuah kota dimana ada menara yang berdiri di situ untuk menyatukan mereka agar tidak tercerai berai. Namun Tuhan merusak rencana tersebut dan menceraiberaikan mereka dengan mengacaukan bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing.
Cerita ini berusaha mengingatkan bahwa manusia boleh berencana menyatukan seluruh umat manusia melalui usaha-usaha yang canggih-canggih, manusia boleh berusaha menciutkan dunia ini dalam genggaman, namun bukan itu maksud Tuhan menciptakan manusia. Manusia diciptakan unik satu dengan yang lain agar supaya manusia dapat menghargai dan bersyukur karena keunikannya dan juga keunikan orang lain. Butuh proses untuk memahami keunikan tiap-tiap orang dan segala upaya yang dilakukan untuk menyeragamkan pasti akan menemui jalan buntu.
Teknologi mengklaim bahwa ia membawa kemudahan dan nantinya diharapkan akan menghantarkan manusia pada kebahagiaan. Namun apakah klaim tersebut bisa menjadi klaim yang berlaku universal bagi seluruh umat manusia. Klaim bahwa teknologi menghantar pada kebahagiaan umat manusia bersifat personal atau terlalu pribadi, hanya orang-orang yang menguasai dan mampu membeli teknologi yang bisa bahagia, sedangkan mereka yang tidak menguasai dan mampu membelinya mungkin hanya akan menjadi sampah dalam era globalisasi ini. Untuk itu adalah baik bila teknologi dikuasai dan diupayakan oleh orang-orang yang bermoral dan bertujuan baik yang tidak menyalahgunakan kecanggihan teknologi, yang menggunakan kecanggihan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup orang-orang yang tidak mampu dan menderita, bahwa teknologi digunakan oleh orang-orang yang mampu menghargai keberagaman dan keunikan manusia, teknologi juga harus mengarahkan manusia terhadap penghargaan akan proses bahwa sesuatu tidak ada yang instan di muka bumi ini. Bahwa dengan segala kecanggihannya teknologi harusnya mampu mengungkapkan keindahan dan keunikan yang muncul dari setiap tahap-tahap dalam sebuah proses, teknologi harus dapat mendukung setiap proses-proses yang sifatnya alamiah dan kodrati yang menjadi ranah sang pencipta. Dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa teknologi menjadi alat yang mampu memanusiakan manusia, mengangkat harkat dan martabat manusia bukan malah merendahkan harkat dan martabat manusia sehingga manusia yang satu dapat tidak saling mengalahkan manusia lain hanya karena ia memiliki dan menguasai teknologi.
Dunia pendidikan juga harus mengajarkan bahwa penemuan suatu teknologi adalah sebuah proses yang sarat dengan disiplin dan kerja keras. Ia tidak dilahirkan secara instan tapi melalui proses yang panjang yang seringkali didahului dengan kegagalan namun kegagalan tersebut harus disikapi dengan semangat bahwa di ujung lain dari kegagalan ada ujung lain yang disebut keberhasilan dan itu dapat dicapai jika kita mau sungguh-sungguh bergerak menuju ke ujung yang lain yang disebut keberhasilan.
Andrew Jansen
Tidak pernah terpikir oleh kita sebelumnya bahwa dunia yang sekarang kita hidupi telah menciut sedemikian rupa hingga menjadi seolah berada dalam genggaman kita. Betapa tidak sekarang ini kita dapat berhubungan dengan orang lain di belahan dunia lain juga dalam waktu yang bersamaan alias real time melalui internet.
Teknologi telah membuat segala hal yang tidak mungkin di masa lalu menjadi mungkin di masa sekarang. Cetak jarak jauh dalam bisnis surat kabar sudah dimulai sejak kira-kira dua puluh tahun lalu. Teknologi juga telah menyingkat proses dalam kehidupan manusia, dari yang tadinya panjang menjadi lebih singkat.
Sampai di sini semua terlihat baik. Teknologi sebagai buah pikir manusia telah menjadi kekuatan yang dapat merubah hidup manusia menjadi lebih baik, paling tidak begitu klaim kaum teknokrat sebagai kaum yang berinovasi dan juga berhitung untuk menemukan penemuan-penemuan terbaru demi kemajuan umat manusia. Teknologi juga telah mengubah peradaban manusia dari yang tadinya primitif menjadi tradisional hingga modern dan canggih.
Namun dibalik klaim-klaim kecanggihan dan kemudahan hidup bagi manusia, klaim-klaim tersebut tidak bebas dari kekurangan-kekurangan. Teknologi memang banyak membawa manfaat bagi umat manusia tapi mudaratnya ada juga. Perubahan perilaku pada manusia akhirnya juga bermuara pada perubahan budaya masyarakat. Pergerakan tubuh manusia semakin sedikit frekuensinya karena kerja fisik sudah banyak berkurang diganti dengan alat-alat bantu berteknologi, serba otomatis bahkan serba terprogram. Kita bergantung pada teknologi dan jika teknologi mengalami kegagalan, apa yang kita rencanakan juga buyar. Saat teknologi gagal melayani kebutuhan kita, kita menjadi lumpuh. Bisa dibayangkan saat pesawat yang kita tumpangi batal tinggal landas atau harus menunda mendarat karena gangguan entah cuaca buruk atau kerusakan mesin, atau saat kereta yang akan kita tumpangi tertunda keberangkatannya atau malah batal sama sekali. Sistem dalam teknologi informasi dalam dunia bisnis bila mengalami gangguan juga akan menyeret kita dalam pusaran masalah.
Proses yang harus dijalani untuk memperoleh sebuah hasil menjadi lebih singkat karena proses-proses tersebut ”tidak perlu diketahui” bagi para teknokrat proses-proses tersebut hanya akan memperpanjang jalan untuk mencapai solusi. Hal ini yang sekarang menjadi masalah besar dalam kehidupan manusia. Kita sangat bergantung pada alat-alat berteknologi canggih, sehingga kita menjadi lumpuh saat teknologi tersebut tidak berfungsi. Langkah-langkah sudah dipersingkat dalam sebuah proses pencaharian menuju solusi, masalahnya langkah-langkah tersebut pada jaman dahulu harus dikuasai hingga bila terjadi kemacetan, kita tahu bagaimana mengatasinya dengan cara menjalankan secara manual.
Teknologi menjadi alat untuk meramalkan masa depan manusia. Dengan segala kecanggihannya teknologi berusaha menjamin bahwa sesuatu hal di masa depan dapat diprediksi dan orang hanya perlu menunggu saja biar teknologi yang mengerjakan ramalannya.
Saat ini kita sudah masuk dalam suatu era yang kita sebut globalisasi. Dimana batas-batas negara semakin tidak jelas, utamanya dalam dunia perdagangan dan teknologi. Namun ironisnya dunia yang modern, yang global dengan segala kecanggihan teknologi juga tidak bisa melawan ketidakpastian, krisis ekonomi misalnya seringkali dipicu oleh hal-hal yang diluar dugaan. Anthony Giddens5 (2000) menyatakan bahwa krisis ekonomi yang menimpa Asia (termasuk Indonesia) pada tahun 1997 merupakan ontological security, konsekuensi dari kehidupan modern yang memuat kepastian-kepastian yang mengalami kehancuran akibat attack tiba-tiba oleh spekulan uang. Lebih lanjut, Giddens mengatakan: “The world we live in today is not one subject to tight human mastery.” Manusia dengan segala pengetahuan dan teknologi yang dihasilkannya tak mampu mengendalikan dunia, sejarah, dan terpuruk dalam ketidakpastian. Hal ini sebagai konsekuensi logis dari pengaruh globalisasi dan kapitalisme global.
Dilemma semacam ini sudah terjadi 2 milenium sebelumnya, saat kita membuka kembali Kitab Suci pada Kitab Kejadian. Diceritakan pada bab 11 manusia yang mengembara menemukan tanah yang datar di daerah Sinear mereka semua berbicara dalam bahasa yang sama kemudian mereka menetap di situ. Setelah itu mereka lalu berencana membangun sebuah kota dimana ada menara yang berdiri di situ untuk menyatukan mereka agar tidak tercerai berai. Namun Tuhan merusak rencana tersebut dan menceraiberaikan mereka dengan mengacaukan bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing.
Cerita ini berusaha mengingatkan bahwa manusia boleh berencana menyatukan seluruh umat manusia melalui usaha-usaha yang canggih-canggih, manusia boleh berusaha menciutkan dunia ini dalam genggaman, namun bukan itu maksud Tuhan menciptakan manusia. Manusia diciptakan unik satu dengan yang lain agar supaya manusia dapat menghargai dan bersyukur karena keunikannya dan juga keunikan orang lain. Butuh proses untuk memahami keunikan tiap-tiap orang dan segala upaya yang dilakukan untuk menyeragamkan pasti akan menemui jalan buntu.
Teknologi mengklaim bahwa ia membawa kemudahan dan nantinya diharapkan akan menghantarkan manusia pada kebahagiaan. Namun apakah klaim tersebut bisa menjadi klaim yang berlaku universal bagi seluruh umat manusia. Klaim bahwa teknologi menghantar pada kebahagiaan umat manusia bersifat personal atau terlalu pribadi, hanya orang-orang yang menguasai dan mampu membeli teknologi yang bisa bahagia, sedangkan mereka yang tidak menguasai dan mampu membelinya mungkin hanya akan menjadi sampah dalam era globalisasi ini. Untuk itu adalah baik bila teknologi dikuasai dan diupayakan oleh orang-orang yang bermoral dan bertujuan baik yang tidak menyalahgunakan kecanggihan teknologi, yang menggunakan kecanggihan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup orang-orang yang tidak mampu dan menderita, bahwa teknologi digunakan oleh orang-orang yang mampu menghargai keberagaman dan keunikan manusia, teknologi juga harus mengarahkan manusia terhadap penghargaan akan proses bahwa sesuatu tidak ada yang instan di muka bumi ini. Bahwa dengan segala kecanggihannya teknologi harusnya mampu mengungkapkan keindahan dan keunikan yang muncul dari setiap tahap-tahap dalam sebuah proses, teknologi harus dapat mendukung setiap proses-proses yang sifatnya alamiah dan kodrati yang menjadi ranah sang pencipta. Dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa teknologi menjadi alat yang mampu memanusiakan manusia, mengangkat harkat dan martabat manusia bukan malah merendahkan harkat dan martabat manusia sehingga manusia yang satu dapat tidak saling mengalahkan manusia lain hanya karena ia memiliki dan menguasai teknologi.
Dunia pendidikan juga harus mengajarkan bahwa penemuan suatu teknologi adalah sebuah proses yang sarat dengan disiplin dan kerja keras. Ia tidak dilahirkan secara instan tapi melalui proses yang panjang yang seringkali didahului dengan kegagalan namun kegagalan tersebut harus disikapi dengan semangat bahwa di ujung lain dari kegagalan ada ujung lain yang disebut keberhasilan dan itu dapat dicapai jika kita mau sungguh-sungguh bergerak menuju ke ujung yang lain yang disebut keberhasilan.
Andrew Jansen
Kamis, 15 Juli 2010
Selasa, 12 Januari 2010
Keadilan dan Kejujuran
Keadilan dan Kejujuran
“Dimanakah dapat ditemukan keadilan yang adalah cinta dengan mata yang melihat?”
Sabda Zarathustra, Friedrich Nietzsche
Keadilan merupakan sesuatu yang didambakan manusia. Sejak zaman Yunani kuno, manusia telah menjadikan keadilan sebagai suatu keutamaan yang harus dikejar atau diupayakan setiap orang dalam seluruh aspek kehidupannya baik social maupun politis.
Namun konsep keadilan itu sendiri telah dimuati oleh banyak dinamika dan makna, salah satu maknanya adalah ‘memberikan pada setiap orang sesuai dengan haknya’. Makna ini mengacu pada konsep kesetaraan. Mengembalikan konsep tersebut pada satu-satunya makna tidak hanya tidak mungkin, melainkan juga bertentangan dengan makna keadilan itu sendiri. Contohnya, jika orang menerangkan sikap tidak memihak sebagai “perlakuan yang sama tanpa memandang pribadi-pribadi terkait” sikap ini bila secara konsekuen dilakukan maka hal ini dapat mengarah pada ketidakadilan karena salah satu nilai keadilan adalah diperhatikannya perbedaan masing-masing individu dengan kebutuhan-kebutuhan mereka yang berbeda-beda. Pelaksanaan konsekuensi dari prinsip kesamaan juga dapat membawa ketidakadilan.
Baru-baru ini misalnya rasa keadilan kita terusik saat kita mendapati seorang nenek renta berumur 55 tahun bernama Minah harus diganjar hukuman penjara. Padahal itu hanya karena Nenek Minah mencuri 3 buah Kakao di kawasan perkebunan di Banyumas, Jawa Tengah. Itu pun si nenek belum melakukan pencurian karena ketahuan oleh mandor pengawas perkebunan. Nenek Minah pun langsung mengaku dan mengatakan ingin mengambil 3 Kakao tersebut.
Entah bagaimana, kejadian ini dilanjutkan hingga ke pengadilan dan Nenek Minah dituntut hukuman 6 bulan penjara. Nenek Minah pun pasrah karena tidak mengerti hukum dan tidak memiliki uang untuk menyewa pengacara. Namun Nenek Minah tetap mengikuti proses hukum yang melelahkan dengan baik dan berkatata jujur serta meminta maaf. Bahkan hakim pun merasa kasihan dan sangat menghargai kejujuran dan ketaatan Nenek Minah mengikuti persidangan. Hingga akhirnya Nenek Minah hanya diganjar 1 bulan 15 hari. Tapi hakim memperbolehkan Nenek Minah untuk tidak menjalani hukuman itu.
Malahan Nenek Minah mendapatkan hadiah istimewa dari Presiden Republik Mimpi, Si Butet Yogya (SBY). Butet Kertarajasa sebagai 'SBY' menghadiahi Minah 5 biji kakao untuk ditanam sebagai bibit.
“Karena presiden asli tidak bisa memberi bibit, terimalah hadiah ini dari presiden bodongan," kelakar Butet.
Hal ini kontras dengan para koruptor, pengemplang duit BLBI yang tak jelas di mana rimbanya atau memang sengaja dibuat tidak jelas di mana rimbanya dan tidak jelas pula bagaimana kelanjutan kasusnya.
Jacques Derrida dalam bagian pertama bukunya yang berjudul Force de loi. Le fondement mystique de l’autorite menulis dengan singkat dan padat: “Keadilan adalah sebuah pengalaman tentang yang tidak mungkin”. Derrida mendefinisikan pengalaman sebagai “melintasi” dalam arti bahwa sebuah pengalaman adalah pembuka jalan, membuka akses dan mendobrak. Jadi pengalaman selalu mungkin karena jika tidak mungkin tentulah orang tidak dapat mengalami apa-apa. Lalu apakah artinya pengalaman yang tidak mungkin? Pengalaman ini adalah sebuah pengalaman yang di dalamnya orang terbentur pada batas-batas dari hal-hal yang bisa dialami; orang terjebak ke dalam sebuah jalan buntu dimana tidak dapat memutuskan pilihan dari jenis either-or hal ini berarti kita tidak bisa sepenuhnya mengalami keadilan. Kita hanya mengalami perbatasan pengalaman kita, yaitu keadaan di mana kita tidak bisa bergerak lebih jauh lagi dan tidak bisa memutuskan pilihan either-or. Namun hal ini tidak berarti bahwa kita seharusnya tidak mengambil keputusan apapun, melainkan bahwa setiap keputusan yang bagaimanapun juga akan kita ambil tampak sebagai sesuatu yang sangat nekat sekaligus tidak memadai di hadapan kedalaman dan keluasan dari apa yang harus diputuskan, karena kita berada di perbatasan antara apa yang dapat dialami dan apa yang tidak dapat dialami.
Jika keadilan dipahami sebagai suatu pengalaman di mana orang berada dalam kebuntuan maka hal ini berarti bahwa sebuah keputusan yang adil, di satu pihak harus memperoleh pengakuan dengan cara mengindahkan aturan; namun di lain pihak, keputusan itu bisa dianggap adil hanya jika keputusan itu tidak sekedar memenuhi aturan. Tanpa mengalami kebuntuan dimana suatu aturan ditetapkan kembali secara baru, sebuah keputusan tidak dapat dianggap adil.
Kisah hidup Yesus sarat dengan momen-momen seperti ini. Dalam injil sering kita dapati Yesus mengambil keputusan yang kontroversial seperti saat menentukan siapa yang boleh melempar batu pertama kalinya kepada perempuan yang kedapatan berzinah. Dalam hal ini Yesus tidak melanggar hukum taurat tapi Yesus lebih mengedepankan pengampunan yang didasarkan pada cinta kasih, sebuah keadilan yaitu cinta yang melihat dengan mata terbuka. BagiNya kodrat manusia yang pada hakikatnya baik adalah yang utama ketimbang hukum yang dibuat untuk manusia dan bukan manusia untuk hukum. Pengampunan dan pertobatan sebagai manifestasi cinta kasih bagi Yesus lebih utama daripada hukuman dan kematian bagi orang yang bersalah. Sebab jika hanya menjalani hukuman orang mungkin tidak mengalami pertobatan, dengan hukuman dan kematian mata rantai kekerasan masih dilestarikan, orang tidak melakukan kesalahan bukan karena ia sadar bahwa itu salah dan merugikan orang lain dan mengecewakan Tuhan tapi karena takut akan hukuman dan kematian, ini artinya orang masih hidup di bawah bayang-bayang kematian yang menghantui, bukan menjalani hidup yang merdeka dan berkelimpahan karena kasih. Dalam hal ini pula Yesus mentransformasikan hukum taurat menjadi hukum cinta kasih, bahwa hukum taurat sudah usang dan pada saat yang sama ditetapkanlah hukum yang baru yaitu hukum cinta kasih.
Lalu bagaimana hubungannya dengan kejujuran? Untuk sampai pada suatu keputusan yang adil orang harus mengalami pengalaman kebuntuan dimana orang dituntut untuk jujur dan dengan rendah hati mengakui bahwa benar ia tak dapat membuat keputusan dan untuk itu perlu memohon pada Tuhan agar diberi rahmat sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat. Kejujuran di sini juga berarti mengakui semua kebaikan dan kebenaran dari pihak manapun yang terlibat di dalamnya dan tidak berusaha untuk menutup-nutupi atau menyembunyikan kebenaran “sebab kebenaran akan membebaskanmu”
Andrew Jansen
“Dimanakah dapat ditemukan keadilan yang adalah cinta dengan mata yang melihat?”
Sabda Zarathustra, Friedrich Nietzsche
Keadilan merupakan sesuatu yang didambakan manusia. Sejak zaman Yunani kuno, manusia telah menjadikan keadilan sebagai suatu keutamaan yang harus dikejar atau diupayakan setiap orang dalam seluruh aspek kehidupannya baik social maupun politis.
Namun konsep keadilan itu sendiri telah dimuati oleh banyak dinamika dan makna, salah satu maknanya adalah ‘memberikan pada setiap orang sesuai dengan haknya’. Makna ini mengacu pada konsep kesetaraan. Mengembalikan konsep tersebut pada satu-satunya makna tidak hanya tidak mungkin, melainkan juga bertentangan dengan makna keadilan itu sendiri. Contohnya, jika orang menerangkan sikap tidak memihak sebagai “perlakuan yang sama tanpa memandang pribadi-pribadi terkait” sikap ini bila secara konsekuen dilakukan maka hal ini dapat mengarah pada ketidakadilan karena salah satu nilai keadilan adalah diperhatikannya perbedaan masing-masing individu dengan kebutuhan-kebutuhan mereka yang berbeda-beda. Pelaksanaan konsekuensi dari prinsip kesamaan juga dapat membawa ketidakadilan.
Baru-baru ini misalnya rasa keadilan kita terusik saat kita mendapati seorang nenek renta berumur 55 tahun bernama Minah harus diganjar hukuman penjara. Padahal itu hanya karena Nenek Minah mencuri 3 buah Kakao di kawasan perkebunan di Banyumas, Jawa Tengah. Itu pun si nenek belum melakukan pencurian karena ketahuan oleh mandor pengawas perkebunan. Nenek Minah pun langsung mengaku dan mengatakan ingin mengambil 3 Kakao tersebut.
Entah bagaimana, kejadian ini dilanjutkan hingga ke pengadilan dan Nenek Minah dituntut hukuman 6 bulan penjara. Nenek Minah pun pasrah karena tidak mengerti hukum dan tidak memiliki uang untuk menyewa pengacara. Namun Nenek Minah tetap mengikuti proses hukum yang melelahkan dengan baik dan berkatata jujur serta meminta maaf. Bahkan hakim pun merasa kasihan dan sangat menghargai kejujuran dan ketaatan Nenek Minah mengikuti persidangan. Hingga akhirnya Nenek Minah hanya diganjar 1 bulan 15 hari. Tapi hakim memperbolehkan Nenek Minah untuk tidak menjalani hukuman itu.
Malahan Nenek Minah mendapatkan hadiah istimewa dari Presiden Republik Mimpi, Si Butet Yogya (SBY). Butet Kertarajasa sebagai 'SBY' menghadiahi Minah 5 biji kakao untuk ditanam sebagai bibit.
“Karena presiden asli tidak bisa memberi bibit, terimalah hadiah ini dari presiden bodongan," kelakar Butet.
Hal ini kontras dengan para koruptor, pengemplang duit BLBI yang tak jelas di mana rimbanya atau memang sengaja dibuat tidak jelas di mana rimbanya dan tidak jelas pula bagaimana kelanjutan kasusnya.
Jacques Derrida dalam bagian pertama bukunya yang berjudul Force de loi. Le fondement mystique de l’autorite menulis dengan singkat dan padat: “Keadilan adalah sebuah pengalaman tentang yang tidak mungkin”. Derrida mendefinisikan pengalaman sebagai “melintasi” dalam arti bahwa sebuah pengalaman adalah pembuka jalan, membuka akses dan mendobrak. Jadi pengalaman selalu mungkin karena jika tidak mungkin tentulah orang tidak dapat mengalami apa-apa. Lalu apakah artinya pengalaman yang tidak mungkin? Pengalaman ini adalah sebuah pengalaman yang di dalamnya orang terbentur pada batas-batas dari hal-hal yang bisa dialami; orang terjebak ke dalam sebuah jalan buntu dimana tidak dapat memutuskan pilihan dari jenis either-or hal ini berarti kita tidak bisa sepenuhnya mengalami keadilan. Kita hanya mengalami perbatasan pengalaman kita, yaitu keadaan di mana kita tidak bisa bergerak lebih jauh lagi dan tidak bisa memutuskan pilihan either-or. Namun hal ini tidak berarti bahwa kita seharusnya tidak mengambil keputusan apapun, melainkan bahwa setiap keputusan yang bagaimanapun juga akan kita ambil tampak sebagai sesuatu yang sangat nekat sekaligus tidak memadai di hadapan kedalaman dan keluasan dari apa yang harus diputuskan, karena kita berada di perbatasan antara apa yang dapat dialami dan apa yang tidak dapat dialami.
Jika keadilan dipahami sebagai suatu pengalaman di mana orang berada dalam kebuntuan maka hal ini berarti bahwa sebuah keputusan yang adil, di satu pihak harus memperoleh pengakuan dengan cara mengindahkan aturan; namun di lain pihak, keputusan itu bisa dianggap adil hanya jika keputusan itu tidak sekedar memenuhi aturan. Tanpa mengalami kebuntuan dimana suatu aturan ditetapkan kembali secara baru, sebuah keputusan tidak dapat dianggap adil.
Kisah hidup Yesus sarat dengan momen-momen seperti ini. Dalam injil sering kita dapati Yesus mengambil keputusan yang kontroversial seperti saat menentukan siapa yang boleh melempar batu pertama kalinya kepada perempuan yang kedapatan berzinah. Dalam hal ini Yesus tidak melanggar hukum taurat tapi Yesus lebih mengedepankan pengampunan yang didasarkan pada cinta kasih, sebuah keadilan yaitu cinta yang melihat dengan mata terbuka. BagiNya kodrat manusia yang pada hakikatnya baik adalah yang utama ketimbang hukum yang dibuat untuk manusia dan bukan manusia untuk hukum. Pengampunan dan pertobatan sebagai manifestasi cinta kasih bagi Yesus lebih utama daripada hukuman dan kematian bagi orang yang bersalah. Sebab jika hanya menjalani hukuman orang mungkin tidak mengalami pertobatan, dengan hukuman dan kematian mata rantai kekerasan masih dilestarikan, orang tidak melakukan kesalahan bukan karena ia sadar bahwa itu salah dan merugikan orang lain dan mengecewakan Tuhan tapi karena takut akan hukuman dan kematian, ini artinya orang masih hidup di bawah bayang-bayang kematian yang menghantui, bukan menjalani hidup yang merdeka dan berkelimpahan karena kasih. Dalam hal ini pula Yesus mentransformasikan hukum taurat menjadi hukum cinta kasih, bahwa hukum taurat sudah usang dan pada saat yang sama ditetapkanlah hukum yang baru yaitu hukum cinta kasih.
Lalu bagaimana hubungannya dengan kejujuran? Untuk sampai pada suatu keputusan yang adil orang harus mengalami pengalaman kebuntuan dimana orang dituntut untuk jujur dan dengan rendah hati mengakui bahwa benar ia tak dapat membuat keputusan dan untuk itu perlu memohon pada Tuhan agar diberi rahmat sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat. Kejujuran di sini juga berarti mengakui semua kebaikan dan kebenaran dari pihak manapun yang terlibat di dalamnya dan tidak berusaha untuk menutup-nutupi atau menyembunyikan kebenaran “sebab kebenaran akan membebaskanmu”
Andrew Jansen
Minggu, 28 Juni 2009
Kepemimpinan Model Salomo vs Kepemimpinan Model Daud
Pada jaman Salomo menjadi raja Israel, Tuhan memberkati Israel dengan berkat yang melimpah. Salomo adalah seorang raja yang sangat piawai dan bijaksana dalam mengelola kerajaannya. Pengaruhnya yang kuat menjadi magnet bagi banyak orang, bahkan mereka rela menempuh perjalanan jauh, hanya untuk melihat dan belajar dari Salomo. Salomo dikaruniai hikmat dan pengertian yang tiada bandingnya oleh Tuhan seperti yang dimintanya sendiri, "Berilah sekarang kepadaku hikmat dan pengertian, supaya aku dapat keluar dan masuk sebagai pemimpin bangsa ini, sebab siapakah yang dapat menghakimi umat-Mu yang besar ini?" 2 Taw 1:10. Kita pasti setuju bahwa permintaan Salomo itu baik, karena ia tidak meminta kekayaan untuk memperkaya diri sendiri, tetapi jika kita selidiki kita akan menemukan ada hal yang berbahaya dalam doa ini karena sebetulnya Salomo memohon , "Tuhan berikan kepadaku alatnya, lalu aku akan kerjakan semuanya." Salomo meminta hikmat dan pengertian (alatnya) supaya ia bisa menjadi pemimpin yang menjadi hakim atas bangsa Israel (mengerjakan semuanya). Dewasa ini banyak pemimpin seperti Salomo, dikendalikan oleh hikmat dan pengertian namun tanpa tuntunan Roh Kudus. Jika kita telaah lebih jauh tentang Salomo, kita dapati dalam 1 Raj 4:32-33, "Ia menggubah tiga ribu amsal dan nyanyiannya ada seribu lima. Ia bersajak tentang pohon-pohonan, dari pohon aras yang digunung Libanon sampai kepada hisop yang tumbuh pada dinding batu; ia berbicara juga tentang hewan dan tentang burung-burung dan tentang binatang melata dan tentang ikan-ikan." Salomo begitu mengandalkan hikmatnya sehingga nampak ia begitu megah, agung dan bijak di mata khalayak ramai sampai-sampai Tuhan kalah pamor. Tapi sayangnya, Salomo tidak mempraktekkan apa yang ia kotbahkan. Dalam Alkitab diceritakan, ia mempunyai banyak istri, pergi dengan wanita-wanita asing dan akhir hidupnya berakhir dalam penyembahan berhala yang buruk dan imoralitas. Kerajaannya dirongrong dan terkoyak karena intrik-intrik politik sampai-sampai Tuhan murka dan membangkitkan lawan politik Salomo (I Raja-raja 11).
Semua buah-buah hasil kotbah dan nyanyiannya pada akhirnya menjadi hal yang tidak bermoral, tidak membuahkan pertobatan dalam hidup orang lain. Mungkin jika Salomo hidup jaman ini, pasti Salomo sudah menjadi selebritis yang dipuja-puja penggemarnya dan hampir tiap hari menghiasi layar kaca kita. Lagu-lagunya dibawakan oleh penyanyi ngetop dan musik pengiringnya juga dimainkan oleh maestro pemusik, lagu-lagu yang dinyanyikan membawa pesan-pesan moral dan nasihat-nasihat yang baik ... tetapi tidak membawa perubahan kehidupan. Betapapun elok dan bijaksana pemimpinnya, jika tanpa tuntunan Roh Kudus kepemimpinannya akan membawa perubahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam kitab Pengkotbah, akhirnya Salomo mengakui bahwa segala sesuatu itu sia-sia. Salomo kelihatannya mempunyai jawaban, luar biasa memang, tetapi tidak menghasilkan apa-apa.
Model Kepemimpinan Daud adalah model kepemimpinan yang bergantung penuh pada Tuhan. Daud diurapi dan sejak saat itu Roh Tuhan berkuasa atasnya! Sebelum Daud meninggal, ia memberitahukan kepada Salomo rahasia keberhasilan kerajaan (1 Sam 16:13). "Roh Tuhan berbicara dengan perantaraanku, firman-Nya ada di lidahku." (2 Sam 23:2)
Daud menyampaikan tentang hati yang hancur, dan selalu terbuka terhadap pimpinan Roh Kudus. Daud sangat menghormati Roh Kudus, sehingga ia meminta supaya Tuhan jangan mengambil Roh-Nya daripadanya. Daud sadar bahwa ia bukan siapa-siapa tanpa Roh Kudus. Sebagai perbandingan rasul Pauluspun dengan keyakinan teguh mengandalkan kekuatan Roh Kudus, "Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya imanmu jangan bergantung kepada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah." (1 Kor 2:4-5)
Perbedaan model kepemimpinan Salomo dan model kepemimpinan Daud terletak pada hati yang selalu bertobat, selalu mengandalkan Tuhan, selalu haus dan lapar akan kasih Tuhan. Sering kita dapati di Alkitab, Daud berseru kepada Tuhan, tetapi jarang kita jumpai Salomo berseru kepada Tuhan? Salomo berkata dalam 1 Raj 8:61 supaya berpaut kepada Tuhan dan mengikuti segala perintah Tuhan, tetapi Salomo sendiri melanggar perintah Tuhan! Dalam kitab Ulangan tertulis peraturan bagi raja untuk tidak memelihara banyak kuda dan jangan mengembalikan bangsa Israel ke Mesir demi mendapatkan banyak kuda. (Ulangan 17:16-17). Kuda berarti kekuatan manusia. Orang Mesir bergantung kepada kuda dan kereta. Juga dikatakan raja tidak boleh mempunyai banyak istri dan mengumpulkan emas dan perak supaya hatinya tidak menyimpang. Salomo tahu perintah ini bahkan dia mengotbahkan hal ini tetapi dia sendiri melanggarnya.
Salomo mempunyai banyak kuda yang dibawa dari Mesir (1Raj 10:28). Salomo mencintai banyak wanita asing dari Mesir dan Moab (1 Raj 11:1-2), mengawini mereka semua dan membawa mereka ke istananya. Dia mulai membawa masuk hal-hal yang dilarang oleh Allah. Mesir adalah perlambang profanitas dan Firaun melambangkan setan. Salomo mulai menduakan Tuhan. Doa Salomo yang mau berjalan sesuai dengan kehendak Allah, tidak terjadi kerena hatinya tidak terbuka untuk dikoreksi oleh Roh Kudus. "Salomo melakukan apa yang jahat dimata Tuhan, dan ia tidak dengan sepenuh hati mengikuti Tuhan, seperti Daud, ayahnya." (1Raj 11:6), Daud bukanlah orang yang sempurna, ia melakukan perzinahan, ia membunuh orang tidak bersalah, tetapi setelah berbuat dosa, Daud mengakui dosa-dosanya di hadapan Allah! (Mzm 51:1-13). Hati yang penuh penyesalan inilah yang membuat Daud berubah. "Aku berseru kepada Tuhan dan Ia mendengarku dari gunung-Nya yang Kudus dan aku akan tidur dengan nyenyak." Salomo memulai dengan baik tetapi ia tidak mengakhirinya dengan baik. Daud adalah seorang yang biasa, yang menerima urapan Allah dan terus berjalan dalam urapan itu. Hatinya terus terbuka bagi Tuhan. Banyak orang yang berkata "Aku bisa melakukannya dengan kemampuan dan kepandaianku.." tetapi ada orang lain berkata dengan penuh kerendahan hati "Tuhan pimpinlah aku, karena aku tidak mampu berjalan sendiri..."
Semua buah-buah hasil kotbah dan nyanyiannya pada akhirnya menjadi hal yang tidak bermoral, tidak membuahkan pertobatan dalam hidup orang lain. Mungkin jika Salomo hidup jaman ini, pasti Salomo sudah menjadi selebritis yang dipuja-puja penggemarnya dan hampir tiap hari menghiasi layar kaca kita. Lagu-lagunya dibawakan oleh penyanyi ngetop dan musik pengiringnya juga dimainkan oleh maestro pemusik, lagu-lagu yang dinyanyikan membawa pesan-pesan moral dan nasihat-nasihat yang baik ... tetapi tidak membawa perubahan kehidupan. Betapapun elok dan bijaksana pemimpinnya, jika tanpa tuntunan Roh Kudus kepemimpinannya akan membawa perubahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam kitab Pengkotbah, akhirnya Salomo mengakui bahwa segala sesuatu itu sia-sia. Salomo kelihatannya mempunyai jawaban, luar biasa memang, tetapi tidak menghasilkan apa-apa.
Model Kepemimpinan Daud adalah model kepemimpinan yang bergantung penuh pada Tuhan. Daud diurapi dan sejak saat itu Roh Tuhan berkuasa atasnya! Sebelum Daud meninggal, ia memberitahukan kepada Salomo rahasia keberhasilan kerajaan (1 Sam 16:13). "Roh Tuhan berbicara dengan perantaraanku, firman-Nya ada di lidahku." (2 Sam 23:2)
Daud menyampaikan tentang hati yang hancur, dan selalu terbuka terhadap pimpinan Roh Kudus. Daud sangat menghormati Roh Kudus, sehingga ia meminta supaya Tuhan jangan mengambil Roh-Nya daripadanya. Daud sadar bahwa ia bukan siapa-siapa tanpa Roh Kudus. Sebagai perbandingan rasul Pauluspun dengan keyakinan teguh mengandalkan kekuatan Roh Kudus, "Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya imanmu jangan bergantung kepada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah." (1 Kor 2:4-5)
Perbedaan model kepemimpinan Salomo dan model kepemimpinan Daud terletak pada hati yang selalu bertobat, selalu mengandalkan Tuhan, selalu haus dan lapar akan kasih Tuhan. Sering kita dapati di Alkitab, Daud berseru kepada Tuhan, tetapi jarang kita jumpai Salomo berseru kepada Tuhan? Salomo berkata dalam 1 Raj 8:61 supaya berpaut kepada Tuhan dan mengikuti segala perintah Tuhan, tetapi Salomo sendiri melanggar perintah Tuhan! Dalam kitab Ulangan tertulis peraturan bagi raja untuk tidak memelihara banyak kuda dan jangan mengembalikan bangsa Israel ke Mesir demi mendapatkan banyak kuda. (Ulangan 17:16-17). Kuda berarti kekuatan manusia. Orang Mesir bergantung kepada kuda dan kereta. Juga dikatakan raja tidak boleh mempunyai banyak istri dan mengumpulkan emas dan perak supaya hatinya tidak menyimpang. Salomo tahu perintah ini bahkan dia mengotbahkan hal ini tetapi dia sendiri melanggarnya.
Salomo mempunyai banyak kuda yang dibawa dari Mesir (1Raj 10:28). Salomo mencintai banyak wanita asing dari Mesir dan Moab (1 Raj 11:1-2), mengawini mereka semua dan membawa mereka ke istananya. Dia mulai membawa masuk hal-hal yang dilarang oleh Allah. Mesir adalah perlambang profanitas dan Firaun melambangkan setan. Salomo mulai menduakan Tuhan. Doa Salomo yang mau berjalan sesuai dengan kehendak Allah, tidak terjadi kerena hatinya tidak terbuka untuk dikoreksi oleh Roh Kudus. "Salomo melakukan apa yang jahat dimata Tuhan, dan ia tidak dengan sepenuh hati mengikuti Tuhan, seperti Daud, ayahnya." (1Raj 11:6), Daud bukanlah orang yang sempurna, ia melakukan perzinahan, ia membunuh orang tidak bersalah, tetapi setelah berbuat dosa, Daud mengakui dosa-dosanya di hadapan Allah! (Mzm 51:1-13). Hati yang penuh penyesalan inilah yang membuat Daud berubah. "Aku berseru kepada Tuhan dan Ia mendengarku dari gunung-Nya yang Kudus dan aku akan tidur dengan nyenyak." Salomo memulai dengan baik tetapi ia tidak mengakhirinya dengan baik. Daud adalah seorang yang biasa, yang menerima urapan Allah dan terus berjalan dalam urapan itu. Hatinya terus terbuka bagi Tuhan. Banyak orang yang berkata "Aku bisa melakukannya dengan kemampuan dan kepandaianku.." tetapi ada orang lain berkata dengan penuh kerendahan hati "Tuhan pimpinlah aku, karena aku tidak mampu berjalan sendiri..."
Langganan:
Postingan (Atom)