Setiap memasuki bulan Agustus, ingatan kita sebagai orang Indonesia atau bekas orang Indonesia biasanya akan merujuk pada sebuah momen yaitu peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Mungkin yang sering muncul di benak kita adalah pesta rakyat dengan segala perlombaan dan keriaannya.
Kita senang, kita bergembira dan kita merayakan kebebasan dari belenggu penjajahan baik Belanda maupun Jepang jaman dahulu. Pada jaman penjajahan, orang tidak bebas untuk melakukan sesuatu, pihak penjajah membatasi akses informasi juga kebebasan untuk berserikat dan berkumpul dibatasi dan diawasi. Masyarakat kelas bawah lebih menderita terutama karena akses yang minim kepada sumber daya yang menunjang kehidupan paling dasar seperti sandang, pangan dan papan.
Memasuki masa pasca kemerdekaan, masyarakat lebih bebas namun ketakutan-ketakunan di tengah-tengah masyarakat makin menjadi-jadi betapa tidak setelah proklamasi keadaan menjadi serba tidak menentu, huru-hara terjadi di mana-mana karena tidak jelas siapa yang jadi penguasa. Pemerintahan yang baru belum terbentuk. Masyarakat menjadi sangat ketakutan tidak ada yang bisa dipercaya atau diandalkan.
Karena terlalu lama dijajah juga sesudah itu kita biasa berada dalam keadaan tidak menentu sampai hari ini. Hal ini membuat kita menjadi sulit percaya kepada orang lain, walaupun orang lain tersebut bermaksud baik dan tulus kepada kita. Para ahli menyebutnya sebagai low trust society.
Contoh paling gampang saja kalo kita berbelanja ke pasar tradisional atau ke pasar-pasar lainnya dimana tawar-menawar harga diperbolehkan, kita secara naluriah pasti berusaha menawar hingga mendapat harga yang paling rendah. BAhkan di toko-toko yang sudah memasang banderol pun kalo harganya masih bisa ditawar kenapa tidak dicoba.
Memasang teralis di jendela atau di pintu (sebagai pintu serangga atau pintu besi), memasang pagar rumah menjadi suatu yang lumrah di negeri ini demi keamanan, walau seringkali logikanya maling/pencuri yang semestinya berada di balik teralis bukan kita.
Jika kita masuk ke gedung-gedung perkantoran atau ke mal kita harus diperiksa termasuk barang-barang bawaan kita, demi keamanan takut jika siapa tahu kita yang membawa bom. BAhkan lebih miris lagi saat hendak mengikuti misa Natal atau Paskah kita diperiksa berikut barang-barang bawaan kita. Atau di kalangan saudara-saudara kita yang muslim ada gurauan, sandal aja di masjid bisa hilang apalagi kalo di masjid ada pianonya.
Saat kuliah kami dibekali dengan dua jilid mata kuliah yang berkaitan dengan konstruksi bangunan, sang dosen menekankan supaya kita menguasai mata kuliah tersebut dengan agar supaya kita tidak diakali oleh insinyur bangunan saat nanti merancang bangunan pengolahan limbah, di satu sisi memang ada baiknya tetapi kadang terbersit juga lho kalo insinyur bangunan yang mengakali kita kenapa tidak mereka yang disalahkan kan itu sudah tugas mereka untuk merancang bangunan yang kuat dan sesuai budget yang disediakan. Mereka yang korup koq kita yang disalahkan? Setelah ada pembaruan kurikulum mata kuliah yang saya sebut di atas akhirnya dilebur menjadi hanya 1 jilid.
Lalu bagaimana?
Akhirnya yang dapat kita lakukan di saat ini. Kita harus berusaha sedemikian rupa menjadi orang yang dapat dipercaya. Klasik sebenarnya kalo ditimbang-timbang, tapi menurut saya itulah jalan satu-satunya. Berusaha untuk jujur apa adanya terutama terhadap diri kita sendiri, berusaha menepati janji, atau kalaupun tidak bisa menepati janji paling tidak memberitahu bahwa saya tidak bisa menepati janji karena ini dan itu dan masuk akal. Tapi juga yang penting adalah tidak berusaha mencari-cari pembenaran atas kesalahan-kesalahan yang sudah dilakukan agar. Tidak berusaha memutar balikkan logika untuk mencari pembenaran atas apa yang memang sudah salah.
Katamu ya hendaknya ya, tidak hendaknya tidak, apapun di luar itu berasal dari si jahat.
Tampilkan postingan dengan label Kemanusiaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kemanusiaan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 11 Agustus 2011
Senin, 21 Maret 2011
Berbagi Walau Cuma Koin Receh
Pernah di suatu masa saya berteman dengan seorang yang boleh dikata kaya dalam arti punya mobil mewah, punya rumah mentereng lengkap dengan perabotan yang bermerek selain itu pakaian yang dikenakan juga berlabel yang menunjukkan kemewahan.
Beberapa kali saya sering nebeng dia kalau hendak pulang atau kebetulan tempat yang akan saya kunjungi searah dengan perjalanannya. Teman saya ini sering mengeluh bahkan naik darah juga ketakutan bila di persimpangan jalan saat menunggu lampu lalu lintas berwarna hijau ada pengamen jalanan atau pengemis atau squeege man (orang yang menawarkan jasa mengelap kaca depan mobil atau pedagang asongan yang menjajakan barang apa saja mulai dari tisu, permen, rokok hingga barang-barang yang tidak ada hubungannya dengan kebutuhan sehari-hari.
”Kenapa sih pemerintah gak bisa menanggulangi masalah kemiskinan? Orang-orang ini gak punya kerjaan, harusnya tugas pemerintah nyediain lapangan kerja buat mereka, biar mereka gak luntang-lantung di jalan, bikin resah aja”
Awal-awalnya saya hanya manggut-manggut saja mengiyakan. Sekali dua kali, tiga kali tapi dia terus saja berkomentar tentang hal yang sama saat saya nebeng di mobilnya.
”Ah elu mah, enak ke mana aja bisa naik mobil keren. Punya duit banyak, apa aja yang lu pengen bisa kebeli” timpal saya, sangking bosan dengan komentarnya yang itu-itu melulu”
”Lho, pemerintah kita gak becus sih bisanya korup, ngumpulin harta aja kerjanya gak pernah mikirin rakyatnya. Harusnya kalo mau kaya ya jadi pengusaha aja”. Timpalnya.
Karena status saya hanya penebeng ya sudah saya maklum saja.
Suatu hari ketika saya nebeng lagi, dia mulai ngeluh-ngeluh soal yang sama. Akhirnya karena tidak tahan, saya nyeletuk
”Ya udah kalo memang pemerintah gak becus ngurusin orang-orang miskin, apa salahnya kalo pas ada pengemis mampir ke mobillu ya...lo kasihlah 500perak aja kan lo juga gak bakal miskin kalo ngasih mereka”
”Iya, tapi itukan gak mendidik mereka, mereka akan terus jadi pengemis. Kalo gue kasih nanti yang lainnya pada ikut-ikutan ngrubungin mobil gue”
”Udahlah kasih aja, tuh ada satu pengemis cacat tangan buntung ke mari, udah kasih aja kenapa. Biarlah pemerintah gak mikirin mereka paling tidak elu dah mikirin mereka, lu udah bertindak walau kecil untuk membantu mereka” ujar saya gak mau kalah.
”Ya udah, gue kesian aja sama pengemis ini karena dia cacat, padahal dia masih bisa kerja” hatinya mulai luluh
“Udah deh paling gak kan lu peduli dengan orang yang malang nasibnya” ujar saya. Walau ogah-ogahan power window jendela sampingnya mulai diturunkan walau hanya cukup untuk ukuran satu koin, tapi satu koin 500 rupiah keluar dari mobilnya.
Setiap kali nebeng dan ketemu pengemis saat menunggu lampu lalin jadi hijau saya selalu memintanya untuk memberi koin 500 rupiah.
”Lu ngasih jangan cuma gope’ doang sekali-kali seribu perak kek” celetuk saya
”Cerewet lu udah sukur gue mau kasih, itu juga lu yang nyuruh gue supaya ngasih”
”Ya ngasih uang 1000 rupiah juga gak bikin lu miskin kan? Sindir saya, walau agak ketar-ketir juga takut kalo nanti saya diturunkan di tengah jalan oleh teman saya.
”Udahlah, toh kita-kita juga gak bisa berbuat banyak buat nyelesaiin masalah kemiskinan, tapi paling nggak kan dengan koin yang nggak seberapa jumlahnya, kita udah bantu orang yang miskin toh” kataku
”Ah dasarlu paling bisa nyari-nyari alasan” kata teman saya
Mungkin karena agak malu karena sering saya sindir, jika mobil yang kami tumpangi dihampiri oleh pengemis maka teman saya akhirnya ”agak terbiasa” untuk sekedar memberi uang receh kepada pengemis di persimpangan jalan. Pernah suatu ketika stok uang recehnya habis dan yang ada hanya lembaran uang lima ribu rupiah akhirnya teman saya dengan berat memberi selembar uang lima ribu rupiah kepada seorang pengemis tua dan cacat karena saya sudah lebih dahulu memberi uang seribu rupiah kepada seorang ibu pengemis tua yang mampir di kaca di sisi saya.
Memang seringkali kita mengutuk kemiskinan, mencap orang-orang yang mengemis itu sebagai orang yang malas yang bisanya hanya meminta-minta. Atau lebih mudah menyalahkan pemerintah yang abai terhadap orang-orang yang miskin karena anggaran yang sudah disunat atau sudah masuk ke kantong pribadi.
Tapi terlepas dari itu semua, sudahlah, percuma kita mengutuki hal-hal itu. Orang miskin dan menderita sampai kiamat juga tetap ada. Jika kita tidak cukup bernyali dan bertekad baja untuk melakukan hal-hal yang heroik dalam memberantas kemiskinan, maka memberi koin untuk orang-orang yang miskin yang mengemis di jalanan atau para pengamen jalanan mungkin menjadi sebentuk kepedulian kita terhadap mereka. “Better light a candle than curse the dark”
Andrew Jansen
Beberapa kali saya sering nebeng dia kalau hendak pulang atau kebetulan tempat yang akan saya kunjungi searah dengan perjalanannya. Teman saya ini sering mengeluh bahkan naik darah juga ketakutan bila di persimpangan jalan saat menunggu lampu lalu lintas berwarna hijau ada pengamen jalanan atau pengemis atau squeege man (orang yang menawarkan jasa mengelap kaca depan mobil atau pedagang asongan yang menjajakan barang apa saja mulai dari tisu, permen, rokok hingga barang-barang yang tidak ada hubungannya dengan kebutuhan sehari-hari.
”Kenapa sih pemerintah gak bisa menanggulangi masalah kemiskinan? Orang-orang ini gak punya kerjaan, harusnya tugas pemerintah nyediain lapangan kerja buat mereka, biar mereka gak luntang-lantung di jalan, bikin resah aja”
Awal-awalnya saya hanya manggut-manggut saja mengiyakan. Sekali dua kali, tiga kali tapi dia terus saja berkomentar tentang hal yang sama saat saya nebeng di mobilnya.
”Ah elu mah, enak ke mana aja bisa naik mobil keren. Punya duit banyak, apa aja yang lu pengen bisa kebeli” timpal saya, sangking bosan dengan komentarnya yang itu-itu melulu”
”Lho, pemerintah kita gak becus sih bisanya korup, ngumpulin harta aja kerjanya gak pernah mikirin rakyatnya. Harusnya kalo mau kaya ya jadi pengusaha aja”. Timpalnya.
Karena status saya hanya penebeng ya sudah saya maklum saja.
Suatu hari ketika saya nebeng lagi, dia mulai ngeluh-ngeluh soal yang sama. Akhirnya karena tidak tahan, saya nyeletuk
”Ya udah kalo memang pemerintah gak becus ngurusin orang-orang miskin, apa salahnya kalo pas ada pengemis mampir ke mobillu ya...lo kasihlah 500perak aja kan lo juga gak bakal miskin kalo ngasih mereka”
”Iya, tapi itukan gak mendidik mereka, mereka akan terus jadi pengemis. Kalo gue kasih nanti yang lainnya pada ikut-ikutan ngrubungin mobil gue”
”Udahlah kasih aja, tuh ada satu pengemis cacat tangan buntung ke mari, udah kasih aja kenapa. Biarlah pemerintah gak mikirin mereka paling tidak elu dah mikirin mereka, lu udah bertindak walau kecil untuk membantu mereka” ujar saya gak mau kalah.
”Ya udah, gue kesian aja sama pengemis ini karena dia cacat, padahal dia masih bisa kerja” hatinya mulai luluh
“Udah deh paling gak kan lu peduli dengan orang yang malang nasibnya” ujar saya. Walau ogah-ogahan power window jendela sampingnya mulai diturunkan walau hanya cukup untuk ukuran satu koin, tapi satu koin 500 rupiah keluar dari mobilnya.
Setiap kali nebeng dan ketemu pengemis saat menunggu lampu lalin jadi hijau saya selalu memintanya untuk memberi koin 500 rupiah.
”Lu ngasih jangan cuma gope’ doang sekali-kali seribu perak kek” celetuk saya
”Cerewet lu udah sukur gue mau kasih, itu juga lu yang nyuruh gue supaya ngasih”
”Ya ngasih uang 1000 rupiah juga gak bikin lu miskin kan? Sindir saya, walau agak ketar-ketir juga takut kalo nanti saya diturunkan di tengah jalan oleh teman saya.
”Udahlah, toh kita-kita juga gak bisa berbuat banyak buat nyelesaiin masalah kemiskinan, tapi paling nggak kan dengan koin yang nggak seberapa jumlahnya, kita udah bantu orang yang miskin toh” kataku
”Ah dasarlu paling bisa nyari-nyari alasan” kata teman saya
Mungkin karena agak malu karena sering saya sindir, jika mobil yang kami tumpangi dihampiri oleh pengemis maka teman saya akhirnya ”agak terbiasa” untuk sekedar memberi uang receh kepada pengemis di persimpangan jalan. Pernah suatu ketika stok uang recehnya habis dan yang ada hanya lembaran uang lima ribu rupiah akhirnya teman saya dengan berat memberi selembar uang lima ribu rupiah kepada seorang pengemis tua dan cacat karena saya sudah lebih dahulu memberi uang seribu rupiah kepada seorang ibu pengemis tua yang mampir di kaca di sisi saya.
Memang seringkali kita mengutuk kemiskinan, mencap orang-orang yang mengemis itu sebagai orang yang malas yang bisanya hanya meminta-minta. Atau lebih mudah menyalahkan pemerintah yang abai terhadap orang-orang yang miskin karena anggaran yang sudah disunat atau sudah masuk ke kantong pribadi.
Tapi terlepas dari itu semua, sudahlah, percuma kita mengutuki hal-hal itu. Orang miskin dan menderita sampai kiamat juga tetap ada. Jika kita tidak cukup bernyali dan bertekad baja untuk melakukan hal-hal yang heroik dalam memberantas kemiskinan, maka memberi koin untuk orang-orang yang miskin yang mengemis di jalanan atau para pengamen jalanan mungkin menjadi sebentuk kepedulian kita terhadap mereka. “Better light a candle than curse the dark”
Andrew Jansen
Menjemput Ajal Menebar Harapan
Bagaimana saat kita diberitahu bahwa kita akan meninggal dalam waktu dekat ini? Tepat minggu depan, tepat bulan depan atau tepat setahun dari sekarang. Berbagai reaksi yang muncul saat kita mengetahui kabar tersebut. Mungkin kita takut atau merasa kenapa kabar ini datang sangat mendadak, sementara masih banyak hal yang belum selesai dikerjakan. Atau ada juga yang tiba-tiba harus mengerjakan berbagai hal yang menurutnya berguna secepat mungkin karena berpacu dengan waktu. Ada juga orang yang bersungut-sungut bahkan marah menyalahi keadaan kenapa hal ini terjadi begitu cepat.
Yang jelas bahwa ada ruang diantara kini di saat kita hidup dan saat kita menemui ajal. Adalah lebih penting jika kita berdiskusi tentang apa yang sebaiknya kita perbuat selama waktu tersebut.
Omong-omong soal kematian, adalah seorang Morrie Schwartz professor sosiologi dari Brandeis University, Waltham, Massachusetts. Vonis hukuman mati telah diterima Morrie di musim panas, Agustus tahun 1994. Dokter yang menanganinya memvonis Morrie menderita penyakit ALS (amyotrophic lateral sclerosis) atau penyakit Lou Gehrig, sebuah penyakit ganas, tak kenal ampun yang menyerang sistem syaraf. Hingga kini belum ditemukan obat penyembuh penyakit tersebut.
”Bagaimana saya sampai terserang?” tanya Morrie
”Belum ada yang tahu” jawab si dokter
”Apakah ini mematikan?”
”Ya”
”Jadi tak lama lagi saya akan mati?”
”Ya” kata dokter, ”maaf”
Morrie tertegun dan saat tersadar ia mendapati bahwa dunia di sekelilingnya normal-normal saja. ”Mengapa dunia tidak ikut berhenti? Tahukah mereka guncangan yang baru saja kualami?”
Morrie menemui ajalnya pada 4 November1995
Kini sebuah buku ditulis tentang hari-hari terakhir orang tua itu oleh Mitch Albom, bekas mahasiswanya dengan judul Tuesdays With Morrie. Dalam catatan Mitch Albom yang tipis itu (tak sampai 200 halaman) kita dapat membaca, bagaimana di hari-hari terakhirnya Morrie Schwartz berbicara, dengan jasad yang semakin macet, tentang pelbagai hal yang menyangkut hidup dan mati. Dalam banyak ”kuliah” - demikian Morrie dan Mitch bersepakat menyebut pertemuan-pertemuan mereka tiap hari Selasa - diskusi yang mendalam tentang harapan menjadi benang merahnya.
Profesor yang terbaring lemah itu pun tahu tak ada yang bisa ia bantah. Ia memutuskan: ia akan membuat kematiannya sebagai proyek penghabisannya.
”Belajarlah bersama aku, dalam perjalanan sakit menuju Maut yang pasti dan pelan ini” Maka ia pun membentuk kelompok diskusi tentang kematian, ia menerima wawancara _ dan ia menjadi terkenal ketika di bulan Maret 1995, ia muncul dalam wawancara dengan Ted Koppel dalam wawancara "Nightline" dalam televisi ABC. Ia juga membuka semacam "kuliah mingguan".
Tiap hari Selasa, Morrie dengan sisa semangatnya berusaha untuk menyelesaikan proyeknya sampai kematian menjemputnya. Mitch Albom, bekas mahasiswanya yang sangat menyayangi guru yang baik itu, menyediakan diri untuk jadi satu-satunya murid. Mitch biasanya datang sehabis sarapan, kadang Mitch memijat tangan Morrie dengan minyak, membantunya melakukan sesuatu yang bagi kita tampak sepele tapi bagi pesakitan seperti Morrie hal tersebut adalah kerja sangat keras. Di sisi ranjang tempat sang profesor terbaring dan menatap kembang sepatu yang tampak di jendela ruang studi, Mitch akan merekam kuliah itu. Dr. Morrie Schwartz tak mengajarkan lagi sosiologi, tapi sesuatu yang lebih dalam dan lebih pendek, serangkaian kuliah tanpa buku, yang akan berakhir bukan dengan sebuah wisuda, tapi dengan pemakaman.
Tercatat ada 14 kuliah di hari Selasa dalam Tuesdays With Morrie. Ada sejumlah topik yang dibahas, di antaranya tentang kematian, tentang keluarga, tentang emosi, usia tua, cinta, maaf, emosi dan pelbagai hal lain. Dr. Morrie Schawrtz tidak lagi disebut sebagai mahaguru, melainkan sebagai seorang yang akrab: Mitch memanggilnya "coach" dan juga dengan nama depan, Morrie, sedang Morrie membalas sapaan Mitch dengan “player”. Kian hari apa yang diutarakan Morrie kian ringkas, tubuhnya kian lama kian lumpuh digerogoti ALS. Pengetahuan akhirnya menjadi redup berganti dengan kearifan yang makin bersinar. Pada Selasa ke-4 Morrie mengucap sebuah kalimat yang mungkin menjadi inti dari semua kuliah-kuliahnya: "Sekali kita belajar tentang kematian, kita akan belajar tentang kehidupan".
Mungkin tak ada yang baru dan aneh dalam kearifan yang diwartakan oleh Morrie. Semua bermuara pada kepasrahan. Ketika akhirnya Morrie tak bisa lagi mengelap kotorannya sehabis buang air besar, ia menyerahkan diri dan bergantung _ dengan tanpa rasa malu _ kepada orang lain.
"Aku mulai menikmati ketergantunganku", katanya.
"Seperti kembali menjadi anak-anak…Kita semua tahu bagaimana menjadi seorang anak. Ada dalam diri kita itu. Bagi saya, ini soal mengingat dan menikmatinya".
Bagi Morrie perlawanan terakhir bukanlah perlawanan terhadap sesuatu yang lebih kuat dan pasti menang _ yang akhirnya berwujud Maut. Perlawanan terakhir adalah terhadap kepedihan menghadapi dan meresapi kekalahan. Kita perlu menang atas godaan untuk menganggap kemenangan itu satu hal yang paling penting. Seringkali kita mengejar kemenangan sebagai suatu hal yang penting tapi kita sendiri tidak pernah memahami apa arti kemenangan sesungguhnya. ”Kenapa kita harus menang” sering kali menjadi kelekatan dalam diri kita dan seringkali pada akhirnya kita menyesali kemenangan kita karena banyak hal yang penting hilang berlalu begitu saja atau dikorbankan dalam hidup kita.
Mungkin ini hanya semacam excuse saja tapi tetap saja di dunia ini ada yang menang dan ada yang kalah.
Dalam sebuah kuliahnya Mitch bertanya kepada Morrie, apa pendapatnya tentang kisah Ayub dalam kitab suci
”Ayub seorang yang baik, tapi Allah membuatnya menderita, mengambil semua yang dimilikinya: rumah, ternak, harta dan keluarganya, membuatnya sakit”
”Untuk menguji imannya”
”Betul. Untuk menguji imannya. Sebab itu, aku ingin tahu...”
”Apa yang ingin kau ketahui?”
”Apa pendapatmu Morrie tentang kisah itu?”
Morrie batuk lagi, parah sekali hingga tangannya gemetar
”Menurutku,” jawabnya sambil tersenyum, ”Allah bertindak berlebihan”
Kita bisa saja berkata, "jangan-jangan hidup memang tak pernah adil", dan dengan itu kita bisa maklum bila kita kehilangan. Atau sebaliknya, kita bisa jadi brutal: karena hidup tak pernah adil, maka pengertian keadilan adalah satu hal yang omong kosong. Persoalannya sekarang mana yang kita pilih.
Terserang ALS menjadi nasib sial bagi Morrie, dan tidak ada alasan mengapa ia harus terserang ALS. Semua terjadi begitu saja, ia harus menjalani pelintiran nasib yang mungkin sebenarnya bukan ganjaran dari perbuatan-perbuatannya di masa lalu dan Morrie sadar betul tentang hal itu. Yang menarik ialah bahwa ia tak memilih untuk menjadi marah dan membuat orang lain jadi korban. Harapan, baginya, ialah ketika ia memberi. Mungkin dengan sedih dan getir dan rapuh. Tapi akhirnya ia memberitahu kita: tetap saja ada orang yang berbuat baik, juga dalam kekalahannya. Bukankah itu juga harapan?
Andrew Jansen
Yang jelas bahwa ada ruang diantara kini di saat kita hidup dan saat kita menemui ajal. Adalah lebih penting jika kita berdiskusi tentang apa yang sebaiknya kita perbuat selama waktu tersebut.
Omong-omong soal kematian, adalah seorang Morrie Schwartz professor sosiologi dari Brandeis University, Waltham, Massachusetts. Vonis hukuman mati telah diterima Morrie di musim panas, Agustus tahun 1994. Dokter yang menanganinya memvonis Morrie menderita penyakit ALS (amyotrophic lateral sclerosis) atau penyakit Lou Gehrig, sebuah penyakit ganas, tak kenal ampun yang menyerang sistem syaraf. Hingga kini belum ditemukan obat penyembuh penyakit tersebut.
”Bagaimana saya sampai terserang?” tanya Morrie
”Belum ada yang tahu” jawab si dokter
”Apakah ini mematikan?”
”Ya”
”Jadi tak lama lagi saya akan mati?”
”Ya” kata dokter, ”maaf”
Morrie tertegun dan saat tersadar ia mendapati bahwa dunia di sekelilingnya normal-normal saja. ”Mengapa dunia tidak ikut berhenti? Tahukah mereka guncangan yang baru saja kualami?”
Morrie menemui ajalnya pada 4 November1995
Kini sebuah buku ditulis tentang hari-hari terakhir orang tua itu oleh Mitch Albom, bekas mahasiswanya dengan judul Tuesdays With Morrie. Dalam catatan Mitch Albom yang tipis itu (tak sampai 200 halaman) kita dapat membaca, bagaimana di hari-hari terakhirnya Morrie Schwartz berbicara, dengan jasad yang semakin macet, tentang pelbagai hal yang menyangkut hidup dan mati. Dalam banyak ”kuliah” - demikian Morrie dan Mitch bersepakat menyebut pertemuan-pertemuan mereka tiap hari Selasa - diskusi yang mendalam tentang harapan menjadi benang merahnya.
Profesor yang terbaring lemah itu pun tahu tak ada yang bisa ia bantah. Ia memutuskan: ia akan membuat kematiannya sebagai proyek penghabisannya.
”Belajarlah bersama aku, dalam perjalanan sakit menuju Maut yang pasti dan pelan ini” Maka ia pun membentuk kelompok diskusi tentang kematian, ia menerima wawancara _ dan ia menjadi terkenal ketika di bulan Maret 1995, ia muncul dalam wawancara dengan Ted Koppel dalam wawancara "Nightline" dalam televisi ABC. Ia juga membuka semacam "kuliah mingguan".
Tiap hari Selasa, Morrie dengan sisa semangatnya berusaha untuk menyelesaikan proyeknya sampai kematian menjemputnya. Mitch Albom, bekas mahasiswanya yang sangat menyayangi guru yang baik itu, menyediakan diri untuk jadi satu-satunya murid. Mitch biasanya datang sehabis sarapan, kadang Mitch memijat tangan Morrie dengan minyak, membantunya melakukan sesuatu yang bagi kita tampak sepele tapi bagi pesakitan seperti Morrie hal tersebut adalah kerja sangat keras. Di sisi ranjang tempat sang profesor terbaring dan menatap kembang sepatu yang tampak di jendela ruang studi, Mitch akan merekam kuliah itu. Dr. Morrie Schwartz tak mengajarkan lagi sosiologi, tapi sesuatu yang lebih dalam dan lebih pendek, serangkaian kuliah tanpa buku, yang akan berakhir bukan dengan sebuah wisuda, tapi dengan pemakaman.
Tercatat ada 14 kuliah di hari Selasa dalam Tuesdays With Morrie. Ada sejumlah topik yang dibahas, di antaranya tentang kematian, tentang keluarga, tentang emosi, usia tua, cinta, maaf, emosi dan pelbagai hal lain. Dr. Morrie Schawrtz tidak lagi disebut sebagai mahaguru, melainkan sebagai seorang yang akrab: Mitch memanggilnya "coach" dan juga dengan nama depan, Morrie, sedang Morrie membalas sapaan Mitch dengan “player”. Kian hari apa yang diutarakan Morrie kian ringkas, tubuhnya kian lama kian lumpuh digerogoti ALS. Pengetahuan akhirnya menjadi redup berganti dengan kearifan yang makin bersinar. Pada Selasa ke-4 Morrie mengucap sebuah kalimat yang mungkin menjadi inti dari semua kuliah-kuliahnya: "Sekali kita belajar tentang kematian, kita akan belajar tentang kehidupan".
Mungkin tak ada yang baru dan aneh dalam kearifan yang diwartakan oleh Morrie. Semua bermuara pada kepasrahan. Ketika akhirnya Morrie tak bisa lagi mengelap kotorannya sehabis buang air besar, ia menyerahkan diri dan bergantung _ dengan tanpa rasa malu _ kepada orang lain.
"Aku mulai menikmati ketergantunganku", katanya.
"Seperti kembali menjadi anak-anak…Kita semua tahu bagaimana menjadi seorang anak. Ada dalam diri kita itu. Bagi saya, ini soal mengingat dan menikmatinya".
Bagi Morrie perlawanan terakhir bukanlah perlawanan terhadap sesuatu yang lebih kuat dan pasti menang _ yang akhirnya berwujud Maut. Perlawanan terakhir adalah terhadap kepedihan menghadapi dan meresapi kekalahan. Kita perlu menang atas godaan untuk menganggap kemenangan itu satu hal yang paling penting. Seringkali kita mengejar kemenangan sebagai suatu hal yang penting tapi kita sendiri tidak pernah memahami apa arti kemenangan sesungguhnya. ”Kenapa kita harus menang” sering kali menjadi kelekatan dalam diri kita dan seringkali pada akhirnya kita menyesali kemenangan kita karena banyak hal yang penting hilang berlalu begitu saja atau dikorbankan dalam hidup kita.
Mungkin ini hanya semacam excuse saja tapi tetap saja di dunia ini ada yang menang dan ada yang kalah.
Dalam sebuah kuliahnya Mitch bertanya kepada Morrie, apa pendapatnya tentang kisah Ayub dalam kitab suci
”Ayub seorang yang baik, tapi Allah membuatnya menderita, mengambil semua yang dimilikinya: rumah, ternak, harta dan keluarganya, membuatnya sakit”
”Untuk menguji imannya”
”Betul. Untuk menguji imannya. Sebab itu, aku ingin tahu...”
”Apa yang ingin kau ketahui?”
”Apa pendapatmu Morrie tentang kisah itu?”
Morrie batuk lagi, parah sekali hingga tangannya gemetar
”Menurutku,” jawabnya sambil tersenyum, ”Allah bertindak berlebihan”
Kita bisa saja berkata, "jangan-jangan hidup memang tak pernah adil", dan dengan itu kita bisa maklum bila kita kehilangan. Atau sebaliknya, kita bisa jadi brutal: karena hidup tak pernah adil, maka pengertian keadilan adalah satu hal yang omong kosong. Persoalannya sekarang mana yang kita pilih.
Terserang ALS menjadi nasib sial bagi Morrie, dan tidak ada alasan mengapa ia harus terserang ALS. Semua terjadi begitu saja, ia harus menjalani pelintiran nasib yang mungkin sebenarnya bukan ganjaran dari perbuatan-perbuatannya di masa lalu dan Morrie sadar betul tentang hal itu. Yang menarik ialah bahwa ia tak memilih untuk menjadi marah dan membuat orang lain jadi korban. Harapan, baginya, ialah ketika ia memberi. Mungkin dengan sedih dan getir dan rapuh. Tapi akhirnya ia memberitahu kita: tetap saja ada orang yang berbuat baik, juga dalam kekalahannya. Bukankah itu juga harapan?
Andrew Jansen
Selasa, 27 Juli 2010
Teknologi Untuk Satu Manusia atau Umat Manusia?
Teknologi Untuk Satu Manusia atau Umat Manusia?
Tidak pernah terpikir oleh kita sebelumnya bahwa dunia yang sekarang kita hidupi telah menciut sedemikian rupa hingga menjadi seolah berada dalam genggaman kita. Betapa tidak sekarang ini kita dapat berhubungan dengan orang lain di belahan dunia lain juga dalam waktu yang bersamaan alias real time melalui internet.
Teknologi telah membuat segala hal yang tidak mungkin di masa lalu menjadi mungkin di masa sekarang. Cetak jarak jauh dalam bisnis surat kabar sudah dimulai sejak kira-kira dua puluh tahun lalu. Teknologi juga telah menyingkat proses dalam kehidupan manusia, dari yang tadinya panjang menjadi lebih singkat.
Sampai di sini semua terlihat baik. Teknologi sebagai buah pikir manusia telah menjadi kekuatan yang dapat merubah hidup manusia menjadi lebih baik, paling tidak begitu klaim kaum teknokrat sebagai kaum yang berinovasi dan juga berhitung untuk menemukan penemuan-penemuan terbaru demi kemajuan umat manusia. Teknologi juga telah mengubah peradaban manusia dari yang tadinya primitif menjadi tradisional hingga modern dan canggih.
Namun dibalik klaim-klaim kecanggihan dan kemudahan hidup bagi manusia, klaim-klaim tersebut tidak bebas dari kekurangan-kekurangan. Teknologi memang banyak membawa manfaat bagi umat manusia tapi mudaratnya ada juga. Perubahan perilaku pada manusia akhirnya juga bermuara pada perubahan budaya masyarakat. Pergerakan tubuh manusia semakin sedikit frekuensinya karena kerja fisik sudah banyak berkurang diganti dengan alat-alat bantu berteknologi, serba otomatis bahkan serba terprogram. Kita bergantung pada teknologi dan jika teknologi mengalami kegagalan, apa yang kita rencanakan juga buyar. Saat teknologi gagal melayani kebutuhan kita, kita menjadi lumpuh. Bisa dibayangkan saat pesawat yang kita tumpangi batal tinggal landas atau harus menunda mendarat karena gangguan entah cuaca buruk atau kerusakan mesin, atau saat kereta yang akan kita tumpangi tertunda keberangkatannya atau malah batal sama sekali. Sistem dalam teknologi informasi dalam dunia bisnis bila mengalami gangguan juga akan menyeret kita dalam pusaran masalah.
Proses yang harus dijalani untuk memperoleh sebuah hasil menjadi lebih singkat karena proses-proses tersebut ”tidak perlu diketahui” bagi para teknokrat proses-proses tersebut hanya akan memperpanjang jalan untuk mencapai solusi. Hal ini yang sekarang menjadi masalah besar dalam kehidupan manusia. Kita sangat bergantung pada alat-alat berteknologi canggih, sehingga kita menjadi lumpuh saat teknologi tersebut tidak berfungsi. Langkah-langkah sudah dipersingkat dalam sebuah proses pencaharian menuju solusi, masalahnya langkah-langkah tersebut pada jaman dahulu harus dikuasai hingga bila terjadi kemacetan, kita tahu bagaimana mengatasinya dengan cara menjalankan secara manual.
Teknologi menjadi alat untuk meramalkan masa depan manusia. Dengan segala kecanggihannya teknologi berusaha menjamin bahwa sesuatu hal di masa depan dapat diprediksi dan orang hanya perlu menunggu saja biar teknologi yang mengerjakan ramalannya.
Saat ini kita sudah masuk dalam suatu era yang kita sebut globalisasi. Dimana batas-batas negara semakin tidak jelas, utamanya dalam dunia perdagangan dan teknologi. Namun ironisnya dunia yang modern, yang global dengan segala kecanggihan teknologi juga tidak bisa melawan ketidakpastian, krisis ekonomi misalnya seringkali dipicu oleh hal-hal yang diluar dugaan. Anthony Giddens5 (2000) menyatakan bahwa krisis ekonomi yang menimpa Asia (termasuk Indonesia) pada tahun 1997 merupakan ontological security, konsekuensi dari kehidupan modern yang memuat kepastian-kepastian yang mengalami kehancuran akibat attack tiba-tiba oleh spekulan uang. Lebih lanjut, Giddens mengatakan: “The world we live in today is not one subject to tight human mastery.” Manusia dengan segala pengetahuan dan teknologi yang dihasilkannya tak mampu mengendalikan dunia, sejarah, dan terpuruk dalam ketidakpastian. Hal ini sebagai konsekuensi logis dari pengaruh globalisasi dan kapitalisme global.
Dilemma semacam ini sudah terjadi 2 milenium sebelumnya, saat kita membuka kembali Kitab Suci pada Kitab Kejadian. Diceritakan pada bab 11 manusia yang mengembara menemukan tanah yang datar di daerah Sinear mereka semua berbicara dalam bahasa yang sama kemudian mereka menetap di situ. Setelah itu mereka lalu berencana membangun sebuah kota dimana ada menara yang berdiri di situ untuk menyatukan mereka agar tidak tercerai berai. Namun Tuhan merusak rencana tersebut dan menceraiberaikan mereka dengan mengacaukan bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing.
Cerita ini berusaha mengingatkan bahwa manusia boleh berencana menyatukan seluruh umat manusia melalui usaha-usaha yang canggih-canggih, manusia boleh berusaha menciutkan dunia ini dalam genggaman, namun bukan itu maksud Tuhan menciptakan manusia. Manusia diciptakan unik satu dengan yang lain agar supaya manusia dapat menghargai dan bersyukur karena keunikannya dan juga keunikan orang lain. Butuh proses untuk memahami keunikan tiap-tiap orang dan segala upaya yang dilakukan untuk menyeragamkan pasti akan menemui jalan buntu.
Teknologi mengklaim bahwa ia membawa kemudahan dan nantinya diharapkan akan menghantarkan manusia pada kebahagiaan. Namun apakah klaim tersebut bisa menjadi klaim yang berlaku universal bagi seluruh umat manusia. Klaim bahwa teknologi menghantar pada kebahagiaan umat manusia bersifat personal atau terlalu pribadi, hanya orang-orang yang menguasai dan mampu membeli teknologi yang bisa bahagia, sedangkan mereka yang tidak menguasai dan mampu membelinya mungkin hanya akan menjadi sampah dalam era globalisasi ini. Untuk itu adalah baik bila teknologi dikuasai dan diupayakan oleh orang-orang yang bermoral dan bertujuan baik yang tidak menyalahgunakan kecanggihan teknologi, yang menggunakan kecanggihan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup orang-orang yang tidak mampu dan menderita, bahwa teknologi digunakan oleh orang-orang yang mampu menghargai keberagaman dan keunikan manusia, teknologi juga harus mengarahkan manusia terhadap penghargaan akan proses bahwa sesuatu tidak ada yang instan di muka bumi ini. Bahwa dengan segala kecanggihannya teknologi harusnya mampu mengungkapkan keindahan dan keunikan yang muncul dari setiap tahap-tahap dalam sebuah proses, teknologi harus dapat mendukung setiap proses-proses yang sifatnya alamiah dan kodrati yang menjadi ranah sang pencipta. Dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa teknologi menjadi alat yang mampu memanusiakan manusia, mengangkat harkat dan martabat manusia bukan malah merendahkan harkat dan martabat manusia sehingga manusia yang satu dapat tidak saling mengalahkan manusia lain hanya karena ia memiliki dan menguasai teknologi.
Dunia pendidikan juga harus mengajarkan bahwa penemuan suatu teknologi adalah sebuah proses yang sarat dengan disiplin dan kerja keras. Ia tidak dilahirkan secara instan tapi melalui proses yang panjang yang seringkali didahului dengan kegagalan namun kegagalan tersebut harus disikapi dengan semangat bahwa di ujung lain dari kegagalan ada ujung lain yang disebut keberhasilan dan itu dapat dicapai jika kita mau sungguh-sungguh bergerak menuju ke ujung yang lain yang disebut keberhasilan.
Andrew Jansen
Tidak pernah terpikir oleh kita sebelumnya bahwa dunia yang sekarang kita hidupi telah menciut sedemikian rupa hingga menjadi seolah berada dalam genggaman kita. Betapa tidak sekarang ini kita dapat berhubungan dengan orang lain di belahan dunia lain juga dalam waktu yang bersamaan alias real time melalui internet.
Teknologi telah membuat segala hal yang tidak mungkin di masa lalu menjadi mungkin di masa sekarang. Cetak jarak jauh dalam bisnis surat kabar sudah dimulai sejak kira-kira dua puluh tahun lalu. Teknologi juga telah menyingkat proses dalam kehidupan manusia, dari yang tadinya panjang menjadi lebih singkat.
Sampai di sini semua terlihat baik. Teknologi sebagai buah pikir manusia telah menjadi kekuatan yang dapat merubah hidup manusia menjadi lebih baik, paling tidak begitu klaim kaum teknokrat sebagai kaum yang berinovasi dan juga berhitung untuk menemukan penemuan-penemuan terbaru demi kemajuan umat manusia. Teknologi juga telah mengubah peradaban manusia dari yang tadinya primitif menjadi tradisional hingga modern dan canggih.
Namun dibalik klaim-klaim kecanggihan dan kemudahan hidup bagi manusia, klaim-klaim tersebut tidak bebas dari kekurangan-kekurangan. Teknologi memang banyak membawa manfaat bagi umat manusia tapi mudaratnya ada juga. Perubahan perilaku pada manusia akhirnya juga bermuara pada perubahan budaya masyarakat. Pergerakan tubuh manusia semakin sedikit frekuensinya karena kerja fisik sudah banyak berkurang diganti dengan alat-alat bantu berteknologi, serba otomatis bahkan serba terprogram. Kita bergantung pada teknologi dan jika teknologi mengalami kegagalan, apa yang kita rencanakan juga buyar. Saat teknologi gagal melayani kebutuhan kita, kita menjadi lumpuh. Bisa dibayangkan saat pesawat yang kita tumpangi batal tinggal landas atau harus menunda mendarat karena gangguan entah cuaca buruk atau kerusakan mesin, atau saat kereta yang akan kita tumpangi tertunda keberangkatannya atau malah batal sama sekali. Sistem dalam teknologi informasi dalam dunia bisnis bila mengalami gangguan juga akan menyeret kita dalam pusaran masalah.
Proses yang harus dijalani untuk memperoleh sebuah hasil menjadi lebih singkat karena proses-proses tersebut ”tidak perlu diketahui” bagi para teknokrat proses-proses tersebut hanya akan memperpanjang jalan untuk mencapai solusi. Hal ini yang sekarang menjadi masalah besar dalam kehidupan manusia. Kita sangat bergantung pada alat-alat berteknologi canggih, sehingga kita menjadi lumpuh saat teknologi tersebut tidak berfungsi. Langkah-langkah sudah dipersingkat dalam sebuah proses pencaharian menuju solusi, masalahnya langkah-langkah tersebut pada jaman dahulu harus dikuasai hingga bila terjadi kemacetan, kita tahu bagaimana mengatasinya dengan cara menjalankan secara manual.
Teknologi menjadi alat untuk meramalkan masa depan manusia. Dengan segala kecanggihannya teknologi berusaha menjamin bahwa sesuatu hal di masa depan dapat diprediksi dan orang hanya perlu menunggu saja biar teknologi yang mengerjakan ramalannya.
Saat ini kita sudah masuk dalam suatu era yang kita sebut globalisasi. Dimana batas-batas negara semakin tidak jelas, utamanya dalam dunia perdagangan dan teknologi. Namun ironisnya dunia yang modern, yang global dengan segala kecanggihan teknologi juga tidak bisa melawan ketidakpastian, krisis ekonomi misalnya seringkali dipicu oleh hal-hal yang diluar dugaan. Anthony Giddens5 (2000) menyatakan bahwa krisis ekonomi yang menimpa Asia (termasuk Indonesia) pada tahun 1997 merupakan ontological security, konsekuensi dari kehidupan modern yang memuat kepastian-kepastian yang mengalami kehancuran akibat attack tiba-tiba oleh spekulan uang. Lebih lanjut, Giddens mengatakan: “The world we live in today is not one subject to tight human mastery.” Manusia dengan segala pengetahuan dan teknologi yang dihasilkannya tak mampu mengendalikan dunia, sejarah, dan terpuruk dalam ketidakpastian. Hal ini sebagai konsekuensi logis dari pengaruh globalisasi dan kapitalisme global.
Dilemma semacam ini sudah terjadi 2 milenium sebelumnya, saat kita membuka kembali Kitab Suci pada Kitab Kejadian. Diceritakan pada bab 11 manusia yang mengembara menemukan tanah yang datar di daerah Sinear mereka semua berbicara dalam bahasa yang sama kemudian mereka menetap di situ. Setelah itu mereka lalu berencana membangun sebuah kota dimana ada menara yang berdiri di situ untuk menyatukan mereka agar tidak tercerai berai. Namun Tuhan merusak rencana tersebut dan menceraiberaikan mereka dengan mengacaukan bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing.
Cerita ini berusaha mengingatkan bahwa manusia boleh berencana menyatukan seluruh umat manusia melalui usaha-usaha yang canggih-canggih, manusia boleh berusaha menciutkan dunia ini dalam genggaman, namun bukan itu maksud Tuhan menciptakan manusia. Manusia diciptakan unik satu dengan yang lain agar supaya manusia dapat menghargai dan bersyukur karena keunikannya dan juga keunikan orang lain. Butuh proses untuk memahami keunikan tiap-tiap orang dan segala upaya yang dilakukan untuk menyeragamkan pasti akan menemui jalan buntu.
Teknologi mengklaim bahwa ia membawa kemudahan dan nantinya diharapkan akan menghantarkan manusia pada kebahagiaan. Namun apakah klaim tersebut bisa menjadi klaim yang berlaku universal bagi seluruh umat manusia. Klaim bahwa teknologi menghantar pada kebahagiaan umat manusia bersifat personal atau terlalu pribadi, hanya orang-orang yang menguasai dan mampu membeli teknologi yang bisa bahagia, sedangkan mereka yang tidak menguasai dan mampu membelinya mungkin hanya akan menjadi sampah dalam era globalisasi ini. Untuk itu adalah baik bila teknologi dikuasai dan diupayakan oleh orang-orang yang bermoral dan bertujuan baik yang tidak menyalahgunakan kecanggihan teknologi, yang menggunakan kecanggihan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup orang-orang yang tidak mampu dan menderita, bahwa teknologi digunakan oleh orang-orang yang mampu menghargai keberagaman dan keunikan manusia, teknologi juga harus mengarahkan manusia terhadap penghargaan akan proses bahwa sesuatu tidak ada yang instan di muka bumi ini. Bahwa dengan segala kecanggihannya teknologi harusnya mampu mengungkapkan keindahan dan keunikan yang muncul dari setiap tahap-tahap dalam sebuah proses, teknologi harus dapat mendukung setiap proses-proses yang sifatnya alamiah dan kodrati yang menjadi ranah sang pencipta. Dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa teknologi menjadi alat yang mampu memanusiakan manusia, mengangkat harkat dan martabat manusia bukan malah merendahkan harkat dan martabat manusia sehingga manusia yang satu dapat tidak saling mengalahkan manusia lain hanya karena ia memiliki dan menguasai teknologi.
Dunia pendidikan juga harus mengajarkan bahwa penemuan suatu teknologi adalah sebuah proses yang sarat dengan disiplin dan kerja keras. Ia tidak dilahirkan secara instan tapi melalui proses yang panjang yang seringkali didahului dengan kegagalan namun kegagalan tersebut harus disikapi dengan semangat bahwa di ujung lain dari kegagalan ada ujung lain yang disebut keberhasilan dan itu dapat dicapai jika kita mau sungguh-sungguh bergerak menuju ke ujung yang lain yang disebut keberhasilan.
Andrew Jansen
Teknologi Untuk Satu Manusia atau Umat Manusia?
Teknologi Untuk Satu Manusia atau Umat Manusia?
Tidak pernah terpikir oleh kita sebelumnya bahwa dunia yang sekarang kita hidupi telah menciut sedemikian rupa hingga menjadi seolah berada dalam genggaman kita. Betapa tidak sekarang ini kita dapat berhubungan dengan orang lain di belahan dunia lain juga dalam waktu yang bersamaan alias real time melalui internet.
Teknologi telah membuat segala hal yang tidak mungkin di masa lalu menjadi mungkin di masa sekarang. Cetak jarak jauh dalam bisnis surat kabar sudah dimulai sejak kira-kira dua puluh tahun lalu. Teknologi juga telah menyingkat proses dalam kehidupan manusia, dari yang tadinya panjang menjadi lebih singkat.
Sampai di sini semua terlihat baik. Teknologi sebagai buah pikir manusia telah menjadi kekuatan yang dapat merubah hidup manusia menjadi lebih baik, paling tidak begitu klaim kaum teknokrat sebagai kaum yang berinovasi dan juga berhitung untuk menemukan penemuan-penemuan terbaru demi kemajuan umat manusia. Teknologi juga telah mengubah peradaban manusia dari yang tadinya primitif menjadi tradisional hingga modern dan canggih.
Namun dibalik klaim-klaim kecanggihan dan kemudahan hidup bagi manusia, klaim-klaim tersebut tidak bebas dari kekurangan-kekurangan. Teknologi memang banyak membawa manfaat bagi umat manusia tapi mudaratnya ada juga. Perubahan perilaku pada manusia akhirnya juga bermuara pada perubahan budaya masyarakat. Pergerakan tubuh manusia semakin sedikit frekuensinya karena kerja fisik sudah banyak berkurang diganti dengan alat-alat bantu berteknologi, serba otomatis bahkan serba terprogram. Kita bergantung pada teknologi dan jika teknologi mengalami kegagalan, apa yang kita rencanakan juga buyar. Saat teknologi gagal melayani kebutuhan kita, kita menjadi lumpuh. Bisa dibayangkan saat pesawat yang kita tumpangi batal tinggal landas atau harus menunda mendarat karena gangguan entah cuaca buruk atau kerusakan mesin, atau saat kereta yang akan kita tumpangi tertunda keberangkatannya atau malah batal sama sekali. Sistem dalam teknologi informasi dalam dunia bisnis bila mengalami gangguan juga akan menyeret kita dalam pusaran masalah.
Proses yang harus dijalani untuk memperoleh sebuah hasil menjadi lebih singkat karena proses-proses tersebut ”tidak perlu diketahui” bagi para teknokrat proses-proses tersebut hanya akan memperpanjang jalan untuk mencapai solusi. Hal ini yang sekarang menjadi masalah besar dalam kehidupan manusia. Kita sangat bergantung pada alat-alat berteknologi canggih, sehingga kita menjadi lumpuh saat teknologi tersebut tidak berfungsi. Langkah-langkah sudah dipersingkat dalam sebuah proses pencaharian menuju solusi, masalahnya langkah-langkah tersebut pada jaman dahulu harus dikuasai hingga bila terjadi kemacetan, kita tahu bagaimana mengatasinya dengan cara menjalankan secara manual.
Teknologi menjadi alat untuk meramalkan masa depan manusia. Dengan segala kecanggihannya teknologi berusaha menjamin bahwa sesuatu hal di masa depan dapat diprediksi dan orang hanya perlu menunggu saja biar teknologi yang mengerjakan ramalannya.
Saat ini kita sudah masuk dalam suatu era yang kita sebut globalisasi. Dimana batas-batas negara semakin tidak jelas, utamanya dalam dunia perdagangan dan teknologi. Namun ironisnya dunia yang modern, yang global dengan segala kecanggihan teknologi juga tidak bisa melawan ketidakpastian, krisis ekonomi misalnya seringkali dipicu oleh hal-hal yang diluar dugaan. Anthony Giddens5 (2000) menyatakan bahwa krisis ekonomi yang menimpa Asia (termasuk Indonesia) pada tahun 1997 merupakan ontological security, konsekuensi dari kehidupan modern yang memuat kepastian-kepastian yang mengalami kehancuran akibat attack tiba-tiba oleh spekulan uang. Lebih lanjut, Giddens mengatakan: “The world we live in today is not one subject to tight human mastery.” Manusia dengan segala pengetahuan dan teknologi yang dihasilkannya tak mampu mengendalikan dunia, sejarah, dan terpuruk dalam ketidakpastian. Hal ini sebagai konsekuensi logis dari pengaruh globalisasi dan kapitalisme global.
Dilemma semacam ini sudah terjadi 2 milenium sebelumnya, saat kita membuka kembali Kitab Suci pada Kitab Kejadian. Diceritakan pada bab 11 manusia yang mengembara menemukan tanah yang datar di daerah Sinear mereka semua berbicara dalam bahasa yang sama kemudian mereka menetap di situ. Setelah itu mereka lalu berencana membangun sebuah kota dimana ada menara yang berdiri di situ untuk menyatukan mereka agar tidak tercerai berai. Namun Tuhan merusak rencana tersebut dan menceraiberaikan mereka dengan mengacaukan bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing.
Cerita ini berusaha mengingatkan bahwa manusia boleh berencana menyatukan seluruh umat manusia melalui usaha-usaha yang canggih-canggih, manusia boleh berusaha menciutkan dunia ini dalam genggaman, namun bukan itu maksud Tuhan menciptakan manusia. Manusia diciptakan unik satu dengan yang lain agar supaya manusia dapat menghargai dan bersyukur karena keunikannya dan juga keunikan orang lain. Butuh proses untuk memahami keunikan tiap-tiap orang dan segala upaya yang dilakukan untuk menyeragamkan pasti akan menemui jalan buntu.
Teknologi mengklaim bahwa ia membawa kemudahan dan nantinya diharapkan akan menghantarkan manusia pada kebahagiaan. Namun apakah klaim tersebut bisa menjadi klaim yang berlaku universal bagi seluruh umat manusia. Klaim bahwa teknologi menghantar pada kebahagiaan umat manusia bersifat personal atau terlalu pribadi, hanya orang-orang yang menguasai dan mampu membeli teknologi yang bisa bahagia, sedangkan mereka yang tidak menguasai dan mampu membelinya mungkin hanya akan menjadi sampah dalam era globalisasi ini. Untuk itu adalah baik bila teknologi dikuasai dan diupayakan oleh orang-orang yang bermoral dan bertujuan baik yang tidak menyalahgunakan kecanggihan teknologi, yang menggunakan kecanggihan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup orang-orang yang tidak mampu dan menderita, bahwa teknologi digunakan oleh orang-orang yang mampu menghargai keberagaman dan keunikan manusia, teknologi juga harus mengarahkan manusia terhadap penghargaan akan proses bahwa sesuatu tidak ada yang instan di muka bumi ini. Bahwa dengan segala kecanggihannya teknologi harusnya mampu mengungkapkan keindahan dan keunikan yang muncul dari setiap tahap-tahap dalam sebuah proses, teknologi harus dapat mendukung setiap proses-proses yang sifatnya alamiah dan kodrati yang menjadi ranah sang pencipta. Dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa teknologi menjadi alat yang mampu memanusiakan manusia, mengangkat harkat dan martabat manusia bukan malah merendahkan harkat dan martabat manusia sehingga manusia yang satu dapat tidak saling mengalahkan manusia lain hanya karena ia memiliki dan menguasai teknologi.
Dunia pendidikan juga harus mengajarkan bahwa penemuan suatu teknologi adalah sebuah proses yang sarat dengan disiplin dan kerja keras. Ia tidak dilahirkan secara instan tapi melalui proses yang panjang yang seringkali didahului dengan kegagalan namun kegagalan tersebut harus disikapi dengan semangat bahwa di ujung lain dari kegagalan ada ujung lain yang disebut keberhasilan dan itu dapat dicapai jika kita mau sungguh-sungguh bergerak menuju ke ujung yang lain yang disebut keberhasilan.
Andrew Jansen
Tidak pernah terpikir oleh kita sebelumnya bahwa dunia yang sekarang kita hidupi telah menciut sedemikian rupa hingga menjadi seolah berada dalam genggaman kita. Betapa tidak sekarang ini kita dapat berhubungan dengan orang lain di belahan dunia lain juga dalam waktu yang bersamaan alias real time melalui internet.
Teknologi telah membuat segala hal yang tidak mungkin di masa lalu menjadi mungkin di masa sekarang. Cetak jarak jauh dalam bisnis surat kabar sudah dimulai sejak kira-kira dua puluh tahun lalu. Teknologi juga telah menyingkat proses dalam kehidupan manusia, dari yang tadinya panjang menjadi lebih singkat.
Sampai di sini semua terlihat baik. Teknologi sebagai buah pikir manusia telah menjadi kekuatan yang dapat merubah hidup manusia menjadi lebih baik, paling tidak begitu klaim kaum teknokrat sebagai kaum yang berinovasi dan juga berhitung untuk menemukan penemuan-penemuan terbaru demi kemajuan umat manusia. Teknologi juga telah mengubah peradaban manusia dari yang tadinya primitif menjadi tradisional hingga modern dan canggih.
Namun dibalik klaim-klaim kecanggihan dan kemudahan hidup bagi manusia, klaim-klaim tersebut tidak bebas dari kekurangan-kekurangan. Teknologi memang banyak membawa manfaat bagi umat manusia tapi mudaratnya ada juga. Perubahan perilaku pada manusia akhirnya juga bermuara pada perubahan budaya masyarakat. Pergerakan tubuh manusia semakin sedikit frekuensinya karena kerja fisik sudah banyak berkurang diganti dengan alat-alat bantu berteknologi, serba otomatis bahkan serba terprogram. Kita bergantung pada teknologi dan jika teknologi mengalami kegagalan, apa yang kita rencanakan juga buyar. Saat teknologi gagal melayani kebutuhan kita, kita menjadi lumpuh. Bisa dibayangkan saat pesawat yang kita tumpangi batal tinggal landas atau harus menunda mendarat karena gangguan entah cuaca buruk atau kerusakan mesin, atau saat kereta yang akan kita tumpangi tertunda keberangkatannya atau malah batal sama sekali. Sistem dalam teknologi informasi dalam dunia bisnis bila mengalami gangguan juga akan menyeret kita dalam pusaran masalah.
Proses yang harus dijalani untuk memperoleh sebuah hasil menjadi lebih singkat karena proses-proses tersebut ”tidak perlu diketahui” bagi para teknokrat proses-proses tersebut hanya akan memperpanjang jalan untuk mencapai solusi. Hal ini yang sekarang menjadi masalah besar dalam kehidupan manusia. Kita sangat bergantung pada alat-alat berteknologi canggih, sehingga kita menjadi lumpuh saat teknologi tersebut tidak berfungsi. Langkah-langkah sudah dipersingkat dalam sebuah proses pencaharian menuju solusi, masalahnya langkah-langkah tersebut pada jaman dahulu harus dikuasai hingga bila terjadi kemacetan, kita tahu bagaimana mengatasinya dengan cara menjalankan secara manual.
Teknologi menjadi alat untuk meramalkan masa depan manusia. Dengan segala kecanggihannya teknologi berusaha menjamin bahwa sesuatu hal di masa depan dapat diprediksi dan orang hanya perlu menunggu saja biar teknologi yang mengerjakan ramalannya.
Saat ini kita sudah masuk dalam suatu era yang kita sebut globalisasi. Dimana batas-batas negara semakin tidak jelas, utamanya dalam dunia perdagangan dan teknologi. Namun ironisnya dunia yang modern, yang global dengan segala kecanggihan teknologi juga tidak bisa melawan ketidakpastian, krisis ekonomi misalnya seringkali dipicu oleh hal-hal yang diluar dugaan. Anthony Giddens5 (2000) menyatakan bahwa krisis ekonomi yang menimpa Asia (termasuk Indonesia) pada tahun 1997 merupakan ontological security, konsekuensi dari kehidupan modern yang memuat kepastian-kepastian yang mengalami kehancuran akibat attack tiba-tiba oleh spekulan uang. Lebih lanjut, Giddens mengatakan: “The world we live in today is not one subject to tight human mastery.” Manusia dengan segala pengetahuan dan teknologi yang dihasilkannya tak mampu mengendalikan dunia, sejarah, dan terpuruk dalam ketidakpastian. Hal ini sebagai konsekuensi logis dari pengaruh globalisasi dan kapitalisme global.
Dilemma semacam ini sudah terjadi 2 milenium sebelumnya, saat kita membuka kembali Kitab Suci pada Kitab Kejadian. Diceritakan pada bab 11 manusia yang mengembara menemukan tanah yang datar di daerah Sinear mereka semua berbicara dalam bahasa yang sama kemudian mereka menetap di situ. Setelah itu mereka lalu berencana membangun sebuah kota dimana ada menara yang berdiri di situ untuk menyatukan mereka agar tidak tercerai berai. Namun Tuhan merusak rencana tersebut dan menceraiberaikan mereka dengan mengacaukan bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing.
Cerita ini berusaha mengingatkan bahwa manusia boleh berencana menyatukan seluruh umat manusia melalui usaha-usaha yang canggih-canggih, manusia boleh berusaha menciutkan dunia ini dalam genggaman, namun bukan itu maksud Tuhan menciptakan manusia. Manusia diciptakan unik satu dengan yang lain agar supaya manusia dapat menghargai dan bersyukur karena keunikannya dan juga keunikan orang lain. Butuh proses untuk memahami keunikan tiap-tiap orang dan segala upaya yang dilakukan untuk menyeragamkan pasti akan menemui jalan buntu.
Teknologi mengklaim bahwa ia membawa kemudahan dan nantinya diharapkan akan menghantarkan manusia pada kebahagiaan. Namun apakah klaim tersebut bisa menjadi klaim yang berlaku universal bagi seluruh umat manusia. Klaim bahwa teknologi menghantar pada kebahagiaan umat manusia bersifat personal atau terlalu pribadi, hanya orang-orang yang menguasai dan mampu membeli teknologi yang bisa bahagia, sedangkan mereka yang tidak menguasai dan mampu membelinya mungkin hanya akan menjadi sampah dalam era globalisasi ini. Untuk itu adalah baik bila teknologi dikuasai dan diupayakan oleh orang-orang yang bermoral dan bertujuan baik yang tidak menyalahgunakan kecanggihan teknologi, yang menggunakan kecanggihan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup orang-orang yang tidak mampu dan menderita, bahwa teknologi digunakan oleh orang-orang yang mampu menghargai keberagaman dan keunikan manusia, teknologi juga harus mengarahkan manusia terhadap penghargaan akan proses bahwa sesuatu tidak ada yang instan di muka bumi ini. Bahwa dengan segala kecanggihannya teknologi harusnya mampu mengungkapkan keindahan dan keunikan yang muncul dari setiap tahap-tahap dalam sebuah proses, teknologi harus dapat mendukung setiap proses-proses yang sifatnya alamiah dan kodrati yang menjadi ranah sang pencipta. Dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa teknologi menjadi alat yang mampu memanusiakan manusia, mengangkat harkat dan martabat manusia bukan malah merendahkan harkat dan martabat manusia sehingga manusia yang satu dapat tidak saling mengalahkan manusia lain hanya karena ia memiliki dan menguasai teknologi.
Dunia pendidikan juga harus mengajarkan bahwa penemuan suatu teknologi adalah sebuah proses yang sarat dengan disiplin dan kerja keras. Ia tidak dilahirkan secara instan tapi melalui proses yang panjang yang seringkali didahului dengan kegagalan namun kegagalan tersebut harus disikapi dengan semangat bahwa di ujung lain dari kegagalan ada ujung lain yang disebut keberhasilan dan itu dapat dicapai jika kita mau sungguh-sungguh bergerak menuju ke ujung yang lain yang disebut keberhasilan.
Andrew Jansen
Langganan:
Postingan (Atom)