Rabu, 15 September 2021
IMAM YANG BERPIKIR DIA GAGAL
Kamis, 01 April 2021
Dialog Tentang Cinta
Dialog Tentang Cinta
Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta sejati? Bagaimana saya bisa menemukannya?
Gurunya menjawab, “Ada taman yang indah dan luas di depan sana. Berjalanlah dan kamu tidak boleh mundur kembali. Kemudian ambillah satu saja bunga yang kamu anggap paling indah dan menakjubkan”
Plato pun berjalan, dan setelah beberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.
Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satu pun bunga?”
Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan aku tidak boleh mundur kembali. Sebenarnya aku telah menemukan yang paling indah dan cantik, tapi aku yakin bahwa ada bunga yang lebih Indah lagi di depan sana, jadi tak kuambil bunga tersebut. Saat aku berjalan lebih jauh lagi, aku menemukan bunga yang lebih indah - tapi seperti yang tadi - aku tetap berfikir bahwa aku akan menemukan bunga yang lebih indah di depan sana. Hingga akhirnya aku bingung dan baru kusadari bahwa bunga-bunga yang kutemukan tak seindah bunga yang tadi, jadi akhirnya tak satupun bunga yang aku ambil.”
Gurunya kemudian menjawab “Jadi ya, itulah "cinta sejati"
Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, “Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?”
Gurunya pun menjawab, “Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah. Kemudian jika kamu menemukan pohon yang cukup tinggi dan kokoh, maka tebanglah pohon tersebut. Peraturannya sama, kamu tidak boleh mundur kembali.
Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang terlalu subur, dan tidak juga terlalu tinggi - tapi terlihat cukup kokoh. Pohon tersebut terlihat biasa-biasa saja.
Gurunya bertanya, “Mengapa kamu memotong pohon ini?”
Plato pun menjawab, “Sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi tadi, saat aku berjalan dan melihat pohon ini - kurasa pohon ini cukup bagus dan kokoh, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau kehilangan kesempatan untuk mendapatkannya.”
Gurunya pun kemudian menjawab, “Dan ya, itulah perkawinan.”
Enam Jenis Harta Kehidupan
Minggu, 28 April 2019
Nietzsche tentang Pecundang
Mengikuti genealogi Nietzschean, kaum domba adalah mereka yang tidak bisa menerima fakta bahwa dirinya bermasalah & pecundang. Mereka menemukan sesuatu di luar mereka (ajaran agama, sains, atheisme, parpol, tokoh2 politik, bahkan kesebelasan sepak bola) sebagai yang bisa mengutuhkan diri mereka. Mereka menemukan 'makna' & merasa 'diselamatkan' oleh fanatisme pada sesuatu di luar diri tsb. Selanjutnya, mereka merasa diri pemenang, satu-satunya pemilik kebenaran. Ia tak mampu menerima kesalahan, karena bernegosiasi dengan kesalahan artinya menjerembabkan kembali ke masa lalu yang tak bisa ia terima. Mekanisme psikologis seperti ini tak berhubungan apa pun dgn kecerdasan intelektual atau gelar [...]
Orang cerdas ada juga yang labil emosinya. Maka bukan suatu yang aneh bila di kampus-kampus, kita temui dosen-dosen bertitel doktor & profesor memeluk ajaran-ajaran radikal [...] Nietzsche sudah meramalkan: kaum bermental budak lebih banyak ditemukan di kota-kota; di kalangan orang terdidik yang membaca koran dibandingkan di kalangan petani di desa-desa. (ASW, Nietzsche : Genealogi Kaum Fanatik). Ini soal perjuangan & kepecundangan. Mereka yang berdeterminasi untuk menang serta mereka yang memelihara kekalahan dalam pertandingan hidup.
Berfokuslah ke Hal-hal yang Penting
Kenapa orang Bali tidak pernah menggangu dan terganggu dengan umat agama lain?
Karena mereka yakin dengan kepercayaannya.
#Fokus
Ada seorang anak yang setiap hari rajin sembahyang ke Pura, lalu suatu hari ia berkata kepada ayahnya,
"Ayah...mulai hari ini saya tidak mau ke Pura lagi"
"Lho kenapa?" sahut sang ayah.
"Karena di Pura saya menemukan orang² yang kelihatannya rohani tapi sebenarnya tidak, ada yang sibuk dengan gadgetnya, sementara yang lain membicarakan keburukan orang lain".
Sang ayah pun berpikir sejenak dan berkata, "Baiklah kalau begitu, tapi ada satu syarat yang harus kamu lakukan setelah itu terserah kamu".
"Apa itu?"
"Ambillah air satu gelas penuh, lalu bawa keliling Pura, ingat jangan sampai ada air yang tumpah".
Si anak pun membawa segelas air berkeliling Pura dengan hati², hingga tak ada setetes air pun yang jatuh.
Sesampainya di rumah, sang ayah bertanya, "Bagaimana sudah kamu bawa air itu keliling Pura?",
"Sudah".
"Apakah ada air yang tumpah?"
"Tidak".
"Apakah di Pura tadi ada orang yang sibuk dengan gadgetnya?".
"Wah, saya tidak tahu karena pandangan saya hanya tertuju pada gelas ini", jawab si anak.
"Apakah di Pura tadi ada orang² yang membicarakan kejelekan orang lain?", tanya sang ayah lagi.
"Wah, saya tidak dengar karena saya hanya konsentrasi menjaga air dalam gelas".
Sang ayah pun tersenyum lalu berkata, _*"Begitulah hidup anakku, jika kamu fokus pada tujuan hidupmu, kamu tidak akan punya waktu untuk menilai kejelekan orang lain. Jangan sampai kesibukanmu menilai kwalitas orang lain membuatmu lupa akan kwalitas dirimu"*_
Marilah kita fokus pada diri sendiri dalam beribadah, bekerja dan untuk terus menerus berbenah menjadi positif.
Semoga kita menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.
*Nasihat Untuk Kita*
Simpan rahasiamu berdua saja:
1. Dirimu
2. Tuhan
Jagalah kedua orang ini selama kamu di dunia:
1. Ibumu
2. Bapakmu
Mohonlah bantuan ketika susah dengan dua hal :
1. Sabar
2. Berdoa
Jangan risau dua hal ini :
1. Rezeki
2. Kematian
Karena keduanya berada di bawah kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa
Dua hal yang tidak perlu diingat selamanya :
1. Kebaikanmu terhadap orang lain.
2. Kesalahan orang lain terhadapmu.
Tiga hal yang memperindah dirimu 😗
1. Sabar
2. Tabah
3. Dermawan
Tiga orang yang hendaknya kamu dekati :
1. Orang yang Ikhlas
2. Orang yang setia
3. Orang yang jujur
Senin, 04 Februari 2019
The Story of the 12 Animals [Chinese Zodiac]
The Story of the 12 Animals [Chinese Zodiac]
The animals are out! Have you ever come across the old story of the 12 animals behind the Chinese zodiac system?
Here’s how it goes
Back when the Republic of China was newly established, a group of Chinese representatives participated in the 5-day reception of a delegation composed of Western representatives alike.
On the final day, the reception hit a high note with a celebratory dinner and a German aristocrat finally got to satisfying his curiosity about the 12 animal signs.
"What is it about using animals like pig, dog, rat as zodiac signs? Why these animals?"
"The 12 zodiac animals are paired in duality; reflecting the six realms of reincarnation. Through these zodiac signs, our ancestors expressed their ambitions, aspirations and is a reflection of their expectations demanded of us,” said one Chinese gentleman.
========================================
1. THE OX & THE RAT
The Ox represents hard work while the Rat represents wisdom.
"The rat and the ox make up the first pair. The rat represents wisdom while the ox meant hard work. Wisdom without hard work is the biggest shame of humanity. Hard work without wisdom will only lead to a life of hardship and an endless grind. Our ancestors put this as the first pairing as to impart on us that we must combine both Wisdom and Hard Work in order to live a fulfilled life,” the gentleman continued.
2. THE PIG & THE TIGER
The Pig symbolizes kind-heartedness. The Tiger represents ferociousness.
"The second duality is the tiger and the pig. The former ferocious, the latter kind-hearted. If we are ferocious and cast like iron, we break easily and it will not be easy to recover. But being kind-hearted and accepting of others all the time also means gullibility that can be taken advantage of. We need to be kind-hearted and accommodative, yet fierce in the pursuit of our goals and happiness.”
3. THE RABBIT & THE DOG
The Rabbit stands for intelligence. The Dog is the embodiment of loyalty.
“Next, the rabbit and the dog. The rabbit stands for intelligence whereas the dog stands for loyalty. Without loyalty, intelligence will not have great followers that bring us breakthroughs and successes. However, without intelligence – loyalty will blindly follow orders and can easily be manipulated to do deeds of others. One must have both intelligence and loyalty to lead and support at the same time.”
4. THE DRAGON & THE ROOSTER
The mythical Dragon illustrates an unpredictable nature where else the Rooster represents order and structure.
"The dragon and the rooster – One that is instinctive in nature, impulsive and even unpredictable. The other systemic and operating like clockwork (like how a rooster clucks away every day at the very same moment the sun rises). The dragon denotes one’s ambitiousness and the natural intuition that comes with, where else the rooster represents rigidness and methodical approaches to pursue a goal. If you only listen to your intuition with no care for systems, you are bound to be impulsive and it will only spell recklessness. But if you are too rigid without the ability to understand nuances, you will make yourself obsolete and irrelevant to change. And change is the only constant.”
5. THE SNAKE & THE MONKEY
The Snake is solitary. The Monkey is communal.
"The fifth pairing is the snake and the monkey. Snake represents solitary that is required for one to carve out their own individuality while the monkey represents the equally important trait of being a part of a community. Mankind will need to work together in societies –all playing to their own strengths no less– to achieve greater good as a whole.
6. THE HORSE & THE GOAT
The Horse is free-spirited. The Goat is purposeful.
"The horse and the goat: the horse represents our vision, a constantly forward-moving one. A goat on the other hand represents an easy-going nature, one that’s free spirited and go-with-the-flow. A person without a balance between these qualities will not be able to reap the fruits of his labor. If you care only for your goals and look after only of yourself, you may not be able to handle all the obstacles that arise. But if you are too free spirited and care only of others, you will eventually lead a life with nothing that you can give.”
=======================================
The Chinese gentlemen paused for a moment, screening through the audience who can now be seen taking in deeper breaths. He said:
"Ladies and gentlemen, I am so happy to be sharing my culture with you all today. Perhaps only with sharing and learning that we will ever be able to all coexist in harmony. Do share the significance and qualities behind constellations and how do they reflect the hope and expectations of your ancestors on you?” the Chinese diplomat asked.
The young man who spoke was Mr. Zhou Enlai, the former Chinese premier.
==============
Rabu, 01 Agustus 2018
MENGAPA ORANG TETAP MERASA BENAR WALAUPUN SEJATINYA SALAH ?
Pada tahun 1894, sebuah surat yang telah disobek- sobek ditemukan di keranjang sampah oleh staf dari seorang Jenderal Prancis. Maka dilakukanlah investegasi besar-besaran untuk mengetahui siapa yang lewat bukti surat itu telah menjual rahasia militer Perancis ke pihak Jerman. Dan kecurigaan kebanyakan orang mengarah pada Letkol. Alfred Dreyfus.
Dreyfus tidak punya track record yang tercela, tidak juga punya motif untuk melakukan pengkhianatan. Cuma ada dua hal yang dapat membuat kecurigaan terhadap Dreyfus. Pertama, tulisannya mirip dengan surat yang ditemukan, dan lebih parah lagi, dia satu-satunya pejabat militer yang beragama Yahudi. Waktu itu, Militer Perancis dikenal anti Yahudi.
Lalu rumah Dreyfus digeledah, mereka tidak menemukan bukti apa pun. Tapi ini pun malah dianggap sebagai bukti betapa liciknya Dreyfus. Tidak hanya berkhianat, dia juga degan sengaja menghilangkan semua bukti. Lalu mereka memeriksa personal history-nya, bahkan menginterview guru sekolahnya. Ditemukan dia sangat cerdas, menguasai 4 bahasa, dan punya memori yang sangat tajam. Maka ini pun dianggap sebagai "bukti" bahwa Dreyfus punya motif dan skill untuk kerja pada agen intelijen asing. Bukankah memang agen intelijen harus punya 3 keahlian itu? Benarkan?
Maka Dreyfus diajukan ke pengadilan militer, dan dinyatakan bersalah. Di depan publik, lencananya dilucuti, kancing baju dicabut, pedang militernya dipatahkan. Peristiwa ini dikenang sebagai "Degradation of Dreyfus". Saat diarak oleh massa yang menghujat dia, Dreyfus teriak, "Saya bersumpah saya tidak bersalah, saya masih layak untuk mengabdi pada negara, Hidup Perancis. Hidup Angkatan Darat". Tapi semua orang sudah tidak peduli dengan teriakannya, dan Akhirnya dia divonis penjara seumur hidup di Devil's Island, pada tanggal 5 Januari 1895.
Mengapa serombongan orang pintar dan berkuasa di Perancis waktu itu begitu yakin bahwa Dreyfus bersalah? Dugaan bahwa Dreyfus memang sengaja dijebak, ternyata keliru. Para sejarawan meyakini bahwa Dreyfus tidak dijebak, dia hanya menjadi korban dari sebuah fenomena yang disebut "MOTIVATED REASONING". Yaitu sebuah penalaran yang nampak sangat logis dan rasional, padahal semua itu hanyalah upaya mencari PEMBENARAN atas suatu ide yang telah diyakini sebelumnya. Tujuannya? termotivasi untuk membela atau menyerang ide tertentu, bukan mencari KEBENARAN secara jernih, dari pihak mana pun kebenaran itu berasal.
Maka kalau orang sudah mengeras sikapnya untuk sangat pro/anti partai politik tertentu, atau sudah terlanjur gandrung/benci sama seseorang, maka orang akan cenderung mengalami "motivated reasoning" ini. Apa pun pendapat orang lain yang dianggap musuh akan nampak salah di pikiran "rasional". Karena memang itulah hebatnya otak, selalu bisa menemukan alasan rasional kenapa mereka salah, dan saya benar. Orang akan bisa mencari 1000 bukti yang membenarkan sikap itu. Bahkan hal2 yang sifatnya netral tiba2 jadi nampak sebagai "bukti" dari kebenaran sikap ini.
Kalau hati sudah dikuasai oleh cinta atau benci, dan berketetapan, pokoknya saya pro ini, anti itu, kita akan cenderung meyakini kebenaran segala pendapat yang mendukung pendapat kita, dan mengabaiakan segala argumen yang berlawanan dengan keyakinan kita. Kita jadi kehilangan akal sehat yang adil dan proporsional dalam menyikapi segala hal. Para psikolog menyebut kesesatan pikir yang mewabah akhir2 ini: CONFIRMATION BIAS.
Fenomena confirmation bias dan motivated reasoning ini sudah sangat jamak ditemukan di sekitar kita, bahkan kadang kita pun ikut jadi pelaku utamanya. Karena hampir semua dari kita telah mengambil sikap untuk memilih partai tertentu, suka tokoh tertentu, punya agama/madzhab tertentu, bahkan mungkin menjadi anggota fanatik supporter klub sepak bola tertentu. Semua ini telah menjadikan kita secara otomatis mudah sekali terjebak dalam 2 kesesatan pikir di atas.
Lalu, bagaimana dengan nasib Dreyfus? Adalah Colonel Georges Picquart, yang walaupun dia juga anti Yahudi, mulai berpikir, bagaimana jika memang Dreyfus tidak bersalah? Bagaimana jika karena salah tangkap, penjahat sebenarnya masih berkeliaran dan terus membocorkan rahasia militer Perancis pada Jerman? Kebetulan dia menemukan ada pejabat militer lain yang tulisan tangannya lebih mirip dengan surat yang ditemukan, dibanding tulisan Dreyfus. Singkat cerita, atas perjuangan Colonel Picquard, Dreyfus baru dinyatakan tidak bersalah 11 TAHUN kemudian.
Yang paling menakutkan dari Motivated Reasoning & Confirmation Bias ini adalah, pelakunya seringkali tidak menyadari dan membela pendapatnya mati-matian sambil menghujat pendapat lain yang berbeda, sehingga efeknya terjadi perang mulut, bahkan di beberapa negara, terjadi genosida, dan perang saudara.
Maka bagaimana caranya agar kita bisa berpikir lebih adil dan jernih?
Bagaimana agar kita selamat dari 2 sesat pikir di atas? agar kita bisa membuat prediksi yang akurat, membuat keputusan yang tepat, atau sekedar membuat good judgement?
Menariknya, ini tidak berkaitan dengan seberapa pintar atau seberapa tinggi IQ kita atau gelar akademis kita. Kata para ahli tentang "good judgment", ini justru berkaitan erat dengan bagaimana anda "merasa" (how you feel). Berikut beberapa Tips untuk memiliki "penilaian yang jernih" :
1. Jangan Terlalu Emosional. Semakin kita emosional, semakin kita termotivasi untuk menyeleksi kebenaran. Semua argumen yang berlawanan akan cenderung kita abaikan. Sementara hoax-pun, asal cocok dengan selera kita akan buru2 kita yakini kebenarannya.
2. Pertahankan rasa Ingin tahu (Curiosity). Rasa penasaran ingin tahu ini akan membuat kita lebih ingin mengecek argumentasi dari dua kubu. Tidak cepat puas buru2 meyakini segala informasi yang masuk.
3. Milikilah hati dan pikiran yang terbuka (Open-Mind & Open-Heart). dengan begini kita akan cenderung mau mendengarkan dan berempati atas posisi masing-masing dari dua kubu yang berseteru. Jangan menutup diri hanya mau menerima informasi dari pihak yang pro sama kita, dan langsung mencurigai, bahkan menolak berita dari semua yang kita anggap pro lawan kita.
4. Jadilah orang yang Independent (grounded). Jangan mudah anut grubyuk ikut-ikutan pendapat seseorang atau satu kelompok. Jangan letakkan harga diri kita berdasarkan omongan orang lain tentang kita. Silahkan pro ini atau anti itu. Tapi janganlah overdosis, sampai menganggap segala hal yang dari pihak kita pasti benar dan segala hal yang dari pihak lawan pasti salah.
5. Milikilah kerendahan hati (Humbleness) bahwa memang kita punya keyakinan tertentu tentang segala hal (politik, sikap keagamaan, aliran pemikiran, dll) tapi dengarkan dengan empatik juga pendapat-pendapat yang berlawanan dengan kita. Dan jika bukti-bukti menunjukkan kita memang salah, jangan sungkan-sungkan untuk mengakui dan minta maaf.
Kesimpulannya, menurut Julia Galef, yang ceramahnya di TED Talks menjadi dasar dari tulisan ini:
"Untuk memiliki good judgment (penilaian yang jernih), khususnya untuk hal-hal yang kontroversial, kita tidak terlalu membutuhkan kepintaran atau analisis yang canggih, tapi kita lebih membutuhkan kedewasaan psikologis dan pengelolaan emosi yang baik"
Jadi apa yang paling kita inginkan?
Apakah membela mati2an pendapat subyektif kita?
Ataukah ingin melihat dunia dengan mata hati sejernih mungkin?