... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
Jumat, 14 Maret 2014
SEMANGKUK BAKSO
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
Rabu, 12 Maret 2014
KARET GELANG
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
Senin, 10 Maret 2014
GRATIS SEPANJANG MASA
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
Sabtu, 08 Maret 2014
BATU UNTUK DILEMPARKAN
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
Senin, 13 Januari 2014
Dua Ekor Macan dan Seekor Kelinci
Dua Ekor Macan & Seekor Kelinci
Di suatu hutan di sebuah perbukitan tinggallah 2 ekor harimau. Harimau B menantang harimau A untuk menangkap seekor kelinci yang sedang asyik memamah wortel, tidak jauh dari tempat mereka berdiri,
“Ayo A, kamu bisa nggak nangkap kelinci itu?” tanya harimau B,
“Ah, itu gampang, lihat saja nih!” Jawab harimau A dan dengan sigap diapun melompat ke arah kelinci tersebut & berlari mengejarnya.
Kelinci yang melihat harimau itu, langsung lari terbirit-birit ketakutan, tanpa berpikir panjang wortelnya dilemparkan ke arah harimau tersebut.
“DUAAAKK!!”..
Karena harimau adalah hewan yang kuat, maka wortel kecil yang mengenai kepalanya tidak dirasakan olehnya, harimau itu tetap mengejar kelinci itu, 1 menit.. 3 menit… sampai 5 menit..
Harimau itu belum dapat menangkap kelinci itu, karena kelinci itu mempercepat larinya. Harimau itupun kelelahan, dan menghentikan pengejarannya.
Dengan perasaan yang sangat malu, dia menunduk dan berjalan kembali ke harimau B.
Harimau B itupun bertanya, “Bagaimana? Apakah kamu bisa menangkapnya?” tanyanya. Harimau A hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Harimau B berkata : “Kamu tahu, kenapa kamu tidak bisa menangkap kelinci itu?
"Kamu kalah, karena kamu tidak serius. Kamu berlari mengejar kelinci hanya untuk pamer saja, sedangkan kelinci itu berlari untuk menyelamatkan nyawanya”.
Di suatu hutan di sebuah perbukitan tinggallah 2 ekor harimau. Harimau B menantang harimau A untuk menangkap seekor kelinci yang sedang asyik memamah wortel, tidak jauh dari tempat mereka berdiri,
“Ayo A, kamu bisa nggak nangkap kelinci itu?” tanya harimau B,
“Ah, itu gampang, lihat saja nih!” Jawab harimau A dan dengan sigap diapun melompat ke arah kelinci tersebut & berlari mengejarnya.
Kelinci yang melihat harimau itu, langsung lari terbirit-birit ketakutan, tanpa berpikir panjang wortelnya dilemparkan ke arah harimau tersebut.
“DUAAAKK!!”..
Karena harimau adalah hewan yang kuat, maka wortel kecil yang mengenai kepalanya tidak dirasakan olehnya, harimau itu tetap mengejar kelinci itu, 1 menit.. 3 menit… sampai 5 menit..
Harimau itu belum dapat menangkap kelinci itu, karena kelinci itu mempercepat larinya. Harimau itupun kelelahan, dan menghentikan pengejarannya.
Dengan perasaan yang sangat malu, dia menunduk dan berjalan kembali ke harimau B.
Harimau B itupun bertanya, “Bagaimana? Apakah kamu bisa menangkapnya?” tanyanya. Harimau A hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Harimau B berkata : “Kamu tahu, kenapa kamu tidak bisa menangkap kelinci itu?
"Kamu kalah, karena kamu tidak serius. Kamu berlari mengejar kelinci hanya untuk pamer saja, sedangkan kelinci itu berlari untuk menyelamatkan nyawanya”.
Jumat, 12 April 2013
Beda Orang Barat dengan Orang Timur
Memang menarik memahami Budaya Asia (Timur) dan membandingkannya dengan Budaya Barat.
Hari Minggu Jalan-jalan

B: menikmati weekend with his own way. R: doyan ke tempat2 keramaian, mal, dll.
Di Restoran

B: ngobrol pelan-pelan di resto. R: ribut ngobrol keras-keras and ketawa-tiwi, ga peduli meja sebelah.
Jalan-Jalan

B: demen sightseeing, yang penting menikmati pemandangannya. R: yang penting foto-foto untuk memory, pemandangan cuma jadi background.
Menangani Masalah

B: tabrak aje, yang penting solve the problem. R: sebisa mungkin menghindari masalah, or jangan sampe ninggalin jejak.
Makan tiga kali sehari

B: makan kenyang 1 kali sehari. R: 3 x makan, ya kudu 3 x kenyang.
Hidup sehari-hari di masa tua
B: udah tua lonely, paling ditemani Snoopy. R: masa tua ga bakal kesepian, asal bantu ngemong cucu ya.
Mood dan Cuaca
B: logikanya, hujan ya bikin repot. R: banyak hujan, banyak hoki ya.
Boss

B: boss juga member of team. R: boss is dewa yang ditakuti.
What's Trendy

B: makanan Asia yang sehat. R: makanan Barat yang bergengsi.
Anak-Anak
Budaya ketimuran nampak pada hampir semua suku bangsa di Asia (Orang Indian, Jepang, Muang Thai, Korea, Indonesia,
Melayu, Dayak, dan masih banyak lagi...). Ikon-ikon berikut dirancang oleh Liu Young yang lahir di China dan mengenyam pendidikan di Jerman.
Biru
--> Orang Barat
Merah --> Orang Asia
Opini

B: langsung to the point. R: blunder muter-muter dulu, apalagi kalo opininya berbeda paham.
Cara Hidup

B: individualis, mikirin kehidupannya sendiri. R: demen kumpul2 sama saudara, ngurusin problem family.
Ketepatan Waktu

B: on time. R: in time.
Kontak

B: contact to related person only. R: semua temen, semua sodara, relasi luas, bisnis lancar.
Marah

B: marah ya marah. R: marah tapi ramah.
Antri saat Menunggu

B: biasa antri teratur. R: rebutan dong, siapa cepat dapat lah.
B: langsung to the point. R: blunder muter-muter dulu, apalagi kalo opininya berbeda paham.
Cara Hidup
B: individualis, mikirin kehidupannya sendiri. R: demen kumpul2 sama saudara, ngurusin problem family.
Ketepatan Waktu
B: on time. R: in time.
Kontak
B: contact to related person only. R: semua temen, semua sodara, relasi luas, bisnis lancar.
Marah
B: marah ya marah. R: marah tapi ramah.
Antri saat Menunggu
B: biasa antri teratur. R: rebutan dong, siapa cepat dapat lah.
Hari Minggu Jalan-jalan
B: menikmati weekend with his own way. R: doyan ke tempat2 keramaian, mal, dll.
Saat Pesta

B: bebas-bebas aja berkelompok dengan groupnya sendiri. R: semua fokus ke satu acara party yang diarrange EO.
B: bebas-bebas aja berkelompok dengan groupnya sendiri. R: semua fokus ke satu acara party yang diarrange EO.
Di Restoran
B: ngobrol pelan-pelan di resto. R: ribut ngobrol keras-keras and ketawa-tiwi, ga peduli meja sebelah.
Jalan-Jalan
B: demen sightseeing, yang penting menikmati pemandangannya. R: yang penting foto-foto untuk memory, pemandangan cuma jadi background.
Menangani Masalah
B: tabrak aje, yang penting solve the problem. R: sebisa mungkin menghindari masalah, or jangan sampe ninggalin jejak.
Makan tiga kali sehari
B: makan kenyang 1 kali sehari. R: 3 x makan, ya kudu 3 x kenyang.
Transportasi

B: dulu pake mobil, sekarang udah care sama environment & health yang ga polusi. R: dulu sengsara pake sepeda, sekarang gengsi dong kalo ga pake mobil.
B: dulu pake mobil, sekarang udah care sama environment & health yang ga polusi. R: dulu sengsara pake sepeda, sekarang gengsi dong kalo ga pake mobil.
Hidup sehari-hari di masa tua
B: udah tua lonely, paling ditemani Snoopy. R: masa tua ga bakal kesepian, asal bantu ngemong cucu ya.
Mood dan Cuaca
B: logikanya, hujan ya bikin repot. R: banyak hujan, banyak hoki ya.
Boss
B: boss juga member of team. R: boss is dewa yang ditakuti.
What's Trendy
B: makanan Asia yang sehat. R: makanan Barat yang bergengsi.
Anak-Anak
B: it’s OK
punya anak, ntar dia harus berjuang untuk hidup kayak kita. R: kerja
jatuh bangun, segala-galanya demi anak, sang penerus
generasi.
Jumat, 15 Maret 2013
Bagaimana jika Doa Malam kita diinterupsi oleh Tuhan???
P: Pendoa
B: Bapa di Surga
P: Bapa di surga …
B: Ya?
P: Jangan menyela. Aku sedang berdoa.
B: Tapi kamu memanggil-Ku.
P: Memanggil-Mu? Aku tidak memanggil-Mu. Aku sedang berdoa.
Bapa di surga….
B: Nah, ya'kan, kamu melakukannya lagi.
P: Melakukan apa?
B: Memanggil-Ku. Kamu bilang, “Bapa di surga.” Aku di sini. Apa yang ada dalam benakmu?
P: Lho, aku tidak bermaksud apa-apa, kok. Aku ini'kan cuma sekedar mengucapkan doa malamku. Aku selalu berdoa
sebelum tidur. Itu merupakan kewajibanku.
B: Oh, baiklah. Teruskan.
P: Aku mengucap syukur atas segala berkat-Mu…..
B: Sebentar....... Berapa besar rasa syukurmu?
P: Apa?
B: Berapa besar rasa syukurmu atas segala berkat-Ku?
P: Aku…yah…aku tidak tahu. Aku tidak peduli. Bukankah itu memang bagian dari doa? Begitulah mereka mengajarku
berdoa.
B: Oh, baiklah. Teruskan…
P: Teruskan?
B: Ya, teruskan doamu.
P: Oh, ya. Berkatilah mereka yang sakit, yang miskin dan yang menderita …
B: Apakah kamu bersungguh-sungguh?
P: Ya, tentu saja.
B: Apa yang telah kamu lakukan untuk itu?
P: Lakukan? Siapa, aku? Tidak ada, kurasa. Aku hanya berpikir bahwa semua akan menjadi baik jika Engkau yang
berkuasa atas segala sesuatu di sini seperti Engkau berkuasa di atas sana, jadi manusia tidak perlu lagi
menderita.
B: Apakah Aku berkuasa atasmu?
P: Hmmm, aku pergi ke gereja, aku memberi kolekte, aku tidak…
B: Bukan itu yang Aku minta. Bagaimana dengan tingkah lakumu? Teman-temanmu dan juga keluargamu menderita
karena ulahmu. Juga caramu memboroskan uang…semuanya hanya untuk kepentingan dirimu sendiri saja. Dan
bagaimana dengan buku-buku yang kamu baca?
P: Berhentilah mencelaku. Aku ini sama baiknya dengan orang-orang lain yang pergi ke gereja setiap hari Minggu.
B: Ah, maaf. Aku pikir engkau meminta-Ku untuk memberkati mereka yang berkekurangan. Agar hal itu terjadi, Aku
perlu bantuan dari mereka yang memintanya……seperti kamu misalnya.
P: Tolong, Bapa. Aku perlu menyelesaikan doaku. Ini sudah jauh lebih lama dari biasanya. Berkatilah para
misionarismu agar mereka dapat menolong orang-orang yang menderita.
B: Maksudmu orang-orang seperti Dion?
P: Dion?
B: Ya, anak yang tinggal di ujung jalan itu.
P: Dion … tapi dia itu pemakai narkoba dan sering mabuk-mabukan, dan tidak pernah pergi ke gereja.
B: Pernahkah kamu melihat ke dalam hatinya?
P: Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin…
B: Aku melihatnya. Hatinya adalah salah satu dari hati yang paling pedih dan menderita.
P: Baiklah, kiranya Engkau mengutus misionaris-Mu ke sana, ya Tuhan.
B: Bukankah kamu yang harus menjadi misionaris-Ku, utusan-Ku? Aku rasa Aku telah menyatakannya dengan amat
jelas dalam setiap Misa.
P: Hei, sebentar. Apa-apaan ini. Apakah ini hari “Pengkritikan- ku"? Aku ini sedang melakukan kewajibanku,
melaksanakan perintah-Mu untuk berdoa. Dan tiba-tiba saja Engkau menyerobot masuk dan mulai membeberkan
semua kesalahanku.
B: Ah, kamu memanggil-Ku. Jadi, Aku di sini. Teruskan doamu. Aku tertarik dengan bagian selanjutnya. Kamu belum
mengubah susunan doamu'kan? Ayo...
P: Aku tidak mau.
B: Kenapa tidak mau?
P: Aku tahu apa yang akan Engkau katakan.
B: Ayo, coba dan lihatlah.
P: Ampunilah segala dosaku … dan bantulah aku untuk mengampuni sesamaku.
B: Bagaimana dengan Billy?
P: Nah, betul'kan. Sudah kuduga. Aku tahu Engkau akan mengungkit-ungkit masalah itu. Dengar Tuhan , ia berbohong
tentang aku sehingga aku dikucilkan. Semua temanku menyangka bahwa aku ini seorang pembohong besar,
padahal aku tidak melakukan apa-apa. Lihat saja, akan kubalas dia!
B: Tetapi, doamu? Bagaimana dengan doamu?
P: Aku tidak bersungguh-sungguh.
B: Baiklah, setidak-tidaknya kamu berkata jujur. Aku pikir kamu memang senang membawa dendammu itu kemana-
mana, ya'kan?
P: Tidak, aku tidak suka. Tetapi aku akan segera merasa puas begitu dendamku itu terbalaskan.
B: Kamu mau tahu suatu rahasia?
P: Rahasia apa?
B: Kamu tidak akan merasa puas, malahan akan semakin parah. Dengarkan Aku, kamu mengampuni Billy dan Aku
akan mengampunimu.
P: Tapi Tuhan, aku tidak dapat mengampuni Billy.
B: Kalau begitu, Aku juga tidak dapat mengampunimu.
P: Sungguh, apa pun yang terjadi?
B: Sungguh, apa pun yang terjadi.
Ah, kamu belum selesai dengan doamu. Teruskanlah.
P: Oh, ya …bantulah aku untuk menguasai diriku dan jauhkanlah aku dari pencobaan.
B: Bagus, bagus. Aku akan melakukannya. Tetapi kamu sendiri, jauhilah tempat-tempat di mana kamu dapat dengan
mudah dicobai.
P: Apa maksud-Mu, Tuhan?
B: Berhentilah berkeliaran di rak-rak majalah dan menghabiskan waktumu di sana . Sebagian dari yang ditawarkan di
sana , cepat atau lambat akan mempengaruhimu. Tiba-tiba saja kamu akan sudah terjerumus dalam hal-hal yang
mengerikan … dan jika itu terjadi, jangan memperalat-Ku sebagai pintu keluar darurat.
P: Pintu keluar darurat? Aku tidak mengerti.
B: Tentu kamu mengerti. Kamu telah melakukannya berulang kali… kamu terjerumus dalam situasi gawat, kemudian
kamu datang kepada-Ku. “Tuhan, bantulah aku untuk keluar dari masalah ini dan aku berjanji tidak akan
melakukannya lagi.” Sungguh mengherankan, kekhusukan dan kesungguhan doamu meningkat drastis apabila
kamu ditimpa masalah. Ingatkah kamu sebagian dari tawar-menawar yang kamu coba lakukan dengan-Ku?
P: Hmmm, aku tidak….Oh ya,….ketika guruku memergokiku menonton film tentang….Astaga!
B: Ingatkah kamu bagaimana kamu berdoa? “Ya Tuhan. Jangan biarkan dia melaporkannya pada ibuku. Aku berjanji
mulai sekarang tidak akan lagi menonton film tujuh belas tahun ke atas.” Dia tidak melaporkannya kepada ibumu,
tetapi kamu tidak menepati janjimu, iya'kan?
P: Tuhan, aku melanggar janjiku. Aku sungguh menyesal.
B: Baik, lanjutkan doamu.
P: Sebentar, Bapa. Aku ingin bertanya sesuatu kepada-Mu. Apakah Engkau selalu mendengarkan doa-doaku?
B: Ya, setiap kata; setiap saat.
P: Kalau begitu, mengapa Engkau tidak pernah menjawabku sebelumnya?
B: Berapa banyakkah kesempatan yang kamu berikan pada-Ku? Tidak ada cukup waktu antara kata “Amin”-mu dan
kepalamu menumbuk bantal. Bagaimana Aku dapat menjawabmu?
P: Engkau dapat, jika saja Engkau sungguh menghendakinya.
B: Tidak. Aku dapat hanya jika “kamu” sungguh menghendakinya.
Anak-Ku, Aku selalu rindu untuk berbicara denganmu.
P: Bapa, maafkan aku. Maukah Engkau mengampuniku?
B: Sudah kuampuni. Dan terima kasih, sudah mengijinkan Aku menginterupsimu. Kadang-kadang Aku begitu rindu
untuk dapat berbicara denganmu.
Selamat malam. Aku mengasihimu.
P: Selamat malam, Bapa. Aku mengasihi-Mu juga
B: Bapa di Surga
P: Bapa di surga …
B: Ya?
P: Jangan menyela. Aku sedang berdoa.
B: Tapi kamu memanggil-Ku.
P: Memanggil-Mu? Aku tidak memanggil-Mu. Aku sedang berdoa.
Bapa di surga….
B: Nah, ya'kan, kamu melakukannya lagi.
P: Melakukan apa?
B: Memanggil-Ku. Kamu bilang, “Bapa di surga.” Aku di sini. Apa yang ada dalam benakmu?
P: Lho, aku tidak bermaksud apa-apa, kok. Aku ini'kan cuma sekedar mengucapkan doa malamku. Aku selalu berdoa
sebelum tidur. Itu merupakan kewajibanku.
B: Oh, baiklah. Teruskan.
P: Aku mengucap syukur atas segala berkat-Mu…..
B: Sebentar....... Berapa besar rasa syukurmu?
P: Apa?
B: Berapa besar rasa syukurmu atas segala berkat-Ku?
P: Aku…yah…aku tidak tahu. Aku tidak peduli. Bukankah itu memang bagian dari doa? Begitulah mereka mengajarku
berdoa.
B: Oh, baiklah. Teruskan…
P: Teruskan?
B: Ya, teruskan doamu.
P: Oh, ya. Berkatilah mereka yang sakit, yang miskin dan yang menderita …
B: Apakah kamu bersungguh-sungguh?
P: Ya, tentu saja.
B: Apa yang telah kamu lakukan untuk itu?
P: Lakukan? Siapa, aku? Tidak ada, kurasa. Aku hanya berpikir bahwa semua akan menjadi baik jika Engkau yang
berkuasa atas segala sesuatu di sini seperti Engkau berkuasa di atas sana, jadi manusia tidak perlu lagi
menderita.
B: Apakah Aku berkuasa atasmu?
P: Hmmm, aku pergi ke gereja, aku memberi kolekte, aku tidak…
B: Bukan itu yang Aku minta. Bagaimana dengan tingkah lakumu? Teman-temanmu dan juga keluargamu menderita
karena ulahmu. Juga caramu memboroskan uang…semuanya hanya untuk kepentingan dirimu sendiri saja. Dan
bagaimana dengan buku-buku yang kamu baca?
P: Berhentilah mencelaku. Aku ini sama baiknya dengan orang-orang lain yang pergi ke gereja setiap hari Minggu.
B: Ah, maaf. Aku pikir engkau meminta-Ku untuk memberkati mereka yang berkekurangan. Agar hal itu terjadi, Aku
perlu bantuan dari mereka yang memintanya……seperti kamu misalnya.
P: Tolong, Bapa. Aku perlu menyelesaikan doaku. Ini sudah jauh lebih lama dari biasanya. Berkatilah para
misionarismu agar mereka dapat menolong orang-orang yang menderita.
B: Maksudmu orang-orang seperti Dion?
P: Dion?
B: Ya, anak yang tinggal di ujung jalan itu.
P: Dion … tapi dia itu pemakai narkoba dan sering mabuk-mabukan, dan tidak pernah pergi ke gereja.
B: Pernahkah kamu melihat ke dalam hatinya?
P: Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin…
B: Aku melihatnya. Hatinya adalah salah satu dari hati yang paling pedih dan menderita.
P: Baiklah, kiranya Engkau mengutus misionaris-Mu ke sana, ya Tuhan.
B: Bukankah kamu yang harus menjadi misionaris-Ku, utusan-Ku? Aku rasa Aku telah menyatakannya dengan amat
jelas dalam setiap Misa.
P: Hei, sebentar. Apa-apaan ini. Apakah ini hari “Pengkritikan- ku"? Aku ini sedang melakukan kewajibanku,
melaksanakan perintah-Mu untuk berdoa. Dan tiba-tiba saja Engkau menyerobot masuk dan mulai membeberkan
semua kesalahanku.
B: Ah, kamu memanggil-Ku. Jadi, Aku di sini. Teruskan doamu. Aku tertarik dengan bagian selanjutnya. Kamu belum
mengubah susunan doamu'kan? Ayo...
P: Aku tidak mau.
B: Kenapa tidak mau?
P: Aku tahu apa yang akan Engkau katakan.
B: Ayo, coba dan lihatlah.
P: Ampunilah segala dosaku … dan bantulah aku untuk mengampuni sesamaku.
B: Bagaimana dengan Billy?
P: Nah, betul'kan. Sudah kuduga. Aku tahu Engkau akan mengungkit-ungkit masalah itu. Dengar Tuhan , ia berbohong
tentang aku sehingga aku dikucilkan. Semua temanku menyangka bahwa aku ini seorang pembohong besar,
padahal aku tidak melakukan apa-apa. Lihat saja, akan kubalas dia!
B: Tetapi, doamu? Bagaimana dengan doamu?
P: Aku tidak bersungguh-sungguh.
B: Baiklah, setidak-tidaknya kamu berkata jujur. Aku pikir kamu memang senang membawa dendammu itu kemana-
mana, ya'kan?
P: Tidak, aku tidak suka. Tetapi aku akan segera merasa puas begitu dendamku itu terbalaskan.
B: Kamu mau tahu suatu rahasia?
P: Rahasia apa?
B: Kamu tidak akan merasa puas, malahan akan semakin parah. Dengarkan Aku, kamu mengampuni Billy dan Aku
akan mengampunimu.
P: Tapi Tuhan, aku tidak dapat mengampuni Billy.
B: Kalau begitu, Aku juga tidak dapat mengampunimu.
P: Sungguh, apa pun yang terjadi?
B: Sungguh, apa pun yang terjadi.
Ah, kamu belum selesai dengan doamu. Teruskanlah.
P: Oh, ya …bantulah aku untuk menguasai diriku dan jauhkanlah aku dari pencobaan.
B: Bagus, bagus. Aku akan melakukannya. Tetapi kamu sendiri, jauhilah tempat-tempat di mana kamu dapat dengan
mudah dicobai.
P: Apa maksud-Mu, Tuhan?
B: Berhentilah berkeliaran di rak-rak majalah dan menghabiskan waktumu di sana . Sebagian dari yang ditawarkan di
sana , cepat atau lambat akan mempengaruhimu. Tiba-tiba saja kamu akan sudah terjerumus dalam hal-hal yang
mengerikan … dan jika itu terjadi, jangan memperalat-Ku sebagai pintu keluar darurat.
P: Pintu keluar darurat? Aku tidak mengerti.
B: Tentu kamu mengerti. Kamu telah melakukannya berulang kali… kamu terjerumus dalam situasi gawat, kemudian
kamu datang kepada-Ku. “Tuhan, bantulah aku untuk keluar dari masalah ini dan aku berjanji tidak akan
melakukannya lagi.” Sungguh mengherankan, kekhusukan dan kesungguhan doamu meningkat drastis apabila
kamu ditimpa masalah. Ingatkah kamu sebagian dari tawar-menawar yang kamu coba lakukan dengan-Ku?
P: Hmmm, aku tidak….Oh ya,….ketika guruku memergokiku menonton film tentang….Astaga!
B: Ingatkah kamu bagaimana kamu berdoa? “Ya Tuhan. Jangan biarkan dia melaporkannya pada ibuku. Aku berjanji
mulai sekarang tidak akan lagi menonton film tujuh belas tahun ke atas.” Dia tidak melaporkannya kepada ibumu,
tetapi kamu tidak menepati janjimu, iya'kan?
P: Tuhan, aku melanggar janjiku. Aku sungguh menyesal.
B: Baik, lanjutkan doamu.
P: Sebentar, Bapa. Aku ingin bertanya sesuatu kepada-Mu. Apakah Engkau selalu mendengarkan doa-doaku?
B: Ya, setiap kata; setiap saat.
P: Kalau begitu, mengapa Engkau tidak pernah menjawabku sebelumnya?
B: Berapa banyakkah kesempatan yang kamu berikan pada-Ku? Tidak ada cukup waktu antara kata “Amin”-mu dan
kepalamu menumbuk bantal. Bagaimana Aku dapat menjawabmu?
P: Engkau dapat, jika saja Engkau sungguh menghendakinya.
B: Tidak. Aku dapat hanya jika “kamu” sungguh menghendakinya.
Anak-Ku, Aku selalu rindu untuk berbicara denganmu.
P: Bapa, maafkan aku. Maukah Engkau mengampuniku?
B: Sudah kuampuni. Dan terima kasih, sudah mengijinkan Aku menginterupsimu. Kadang-kadang Aku begitu rindu
untuk dapat berbicara denganmu.
Selamat malam. Aku mengasihimu.
P: Selamat malam, Bapa. Aku mengasihi-Mu juga
Langganan:
Postingan (Atom)